akulturasipost.com, Pohuwato – Langit Lemito perlahan berubah jingga ketika kendaraan masih terus melaju, membawa orang-orang yang pulang sebelum azan magrib. Di antara deru mesin dan langkah yang terburu-buru, sekelompok pemuda berdiri di tepi jalan. Mereka tidak sekadar menunggu waktu berbuka — mereka menunggu kesempatan untuk berbagi.
Di tangan mereka, paket-paket takjil tersusun rapi. Di wajah mereka, terpancar semangat yang sama: menghadirkan kepedulian di tengah Ramadhan. Itulah kolaborasi KNPI Pohuwato dan Tim YR, dua kekuatan pemuda yang memilih bertemu dalam satu tujuan — memberi manfaat bagi sesama.
Satu per satu pengendara memperlambat laju. Ada yang tersenyum kaget, ada yang menerima dengan mata berbinar, ada pula yang hanya mampu mengucap terima kasih singkat karena haru. Paket berisi bubur ayam dan aneka kue itu mungkin sederhana, namun di saat perut kosong dan perjalanan belum usai, ia terasa seperti pelukan hangat di tengah jalan.
Sebanyak 100 paket takjil dibagikan sore itu. Bukan sekedar aksi seremonial, namun wujud nyata sinergi anak muda yang percaya bahwa kebersamaan bisa mengubah suasana. Relawan KNPI Pohuwato dan Tim YR tampak saling mengisi — ada yang membagikan makanan, ada yang mengatur arus, ada yang sekadar menyapa warga dengan senyum tulus. Tak ada sekat, yang terlihat hanyalah semangat kolektif untuk berbagi.
Ketua KNPI Pohuwato, Fardiyanto Mohi, menegaskan bahwa Ramadhan menjadi ruang bagi pemuda untuk membuktikan peran sosialnya. Bahwa hadir di tengah masyarakat bukan sekedar slogan, melainkan tanggung jawab moral.
“Ramadhan adalah momen untuk berbagi dan memperkuat kebersamaan. Kami berharap kegiatan ini bisa membantu masyarakat sekaligus menjadi ladang amal bagi semua yang terlibat,” ujarnya.
Sinergi itu tidak berhenti pada pembagian takjil. Di balik setiap paket, ada tangan-tangan pelaku UMKM lokal yang ikut bergerak. Ta Nining, salah satu pelaku usaha, merasakan langsung dampaknya. Kue-kue buatannya menjadi bagian dari kebahagiaan banyak orang sore itu.
“Semua kue yang dipasarkan, dibeli dari UMKM lokal. Ini jelas membantu mendongkrak perputaran ekonomi,” katanya pelan, dengan rasa bangga yang sulit disembunyikan.
Ketika azan akhirnya berkumandang, para lawan berhenti sejenak. Jalanan yang tadi ramai perlahan tenang. Namun ada sesuatu yang tertinggal saat itu — rasa bahwa kepedulian masih hidup, bahwa pemuda masih punya hati yang mau bergerak bersama.
Di Lemito, senja itu bukan hanya tentang berbuka puasa. Ia menjadi cerita tentang sinergi — tentang KNPI Pohuwato dan Tim YR yang membuktikan bahwa ketika niat baik dipertemukan, kebaikan bisa terasa jauh lebih besar daripada sekadar seratus paket takjil.
Karena pada akhirnya, yang paling dikenang bukanlah jumlah yang disebarkan, melainkan ketulusan yang hadir di setiap uluran tangan. (merah)






