Akulturasipost, Pohuwato—Permasalahan penggusuran kem-kem penambang tradisional oleh Pihak Perusahaan MERDEKA GOLD RESOURCES nampaknya makin hari makin memanas.makin hari makin menjadi bola panas yang bahkan di prediksi publik jika tak kunjung menemukan solusi maka akan meledak seiring waktu. (31/05/2026)
Pasalnya, pasca Rapat koordinasi yang dinilai masih mengambang, pihak perusahaan tetap melanjutkan Penggusuran kem-kem milik warga dan dikhabarkan bahkan lebih Destruktif. Seorang Warga penambang terluka saat adu mulut dengan pihak Perusahaan, Diduga seorang Oknum Brimob sengaja mencabut parang milik Ardin Tino yang masih terikat di Pinggangnya hingga membuat kondisi saat itu nyaris ricuh.
Merespons insiden tersebut, Abdul Hamid Sukoli (AHS) atau yang akrab disapa Ayah Yopin, meminta PT PETS bahkan Merdeka Gold Resources untuk segera mengutamakan pendekatan dialog dan negosiasi yang sungguh-sungguh kepada masyarakat yang belum menerima program tali asih, alih-alih memaksakan aktivitas di lapangan.
AHS menegaskan bahwa ketegangan yang kembali terjadi pada Kamis kemarin adalah bukti nyata bahwa PT PETS belum menuntaskan kewajibannya kepada seluruh masyarakat terdampak. Menurutnya, perusahaan tidak bisa bergerak maju di atas persoalan yang belum diselesaikan.
AHS secara tegas meminta PT PETS untuk turun langsung, membuka ruang dialog yang terbuka, dan melakukan negosiasi secara jujur dan adil kepada warga yang hingga saat ini belum mendapatkan haknya.
“Perusahaan harus duduk bersama masyarakat yang belum mendapatkan tali asih. Dialog dan negosiasi harus diutamakan, jangan sampai persoalan ini terus berlarut dan menimbulkan konflik yang lebih besar,” tegas AHS.
Sementara itu ketika di Konfirmasi, Humas PT.PETS Kurniawan Hari Siswoko menyatakan bahwa tragedi yang terjadi sungguh di sayangkan.“saya menyayangkan insiden tersebut, sehingga membuat terluka (seperti yg diceritakan dalam video).Harapannya, kedepan tidak terjadi insiden seperti itu dan terus mengedepankan dialog, ” Ujar Kurniawan melalui Pesan Whatsapp.
Publik pun terus mengernyitkan dahi, disela upaya pemerintah menuntaskan konflik ini.Perusahaan justru terkesan kebal mata dan telinga.(Tim Redaksi)





