INVESTIGASI LANJUTAN | Rilis Polres Pohuwato “Tidak Ada Alat Berat”, Publik Curiga Ada Upaya Menghapus Jejak Ekskavator di TKP Bulangita

Sunday, 2 November 2025 - 02:45

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

akulturasipost.com (Pohuwato)— Rilis resmi Polres Pohuwato terkait kematian dua penambang di PETI Bulangita beberapa waktu lalu, menimbulkan tanda tanya besar di kalangan publik. Pasalnya, dalam poin rilis tersebut, tersurat penegasan bahwa tidak ditemukan aktivitas alat berat di lokasi kejadian.

Namun informasi itu bertolak belakang dengan keterangan beberapa saksi lapangan, yang melihat eksavator milik FM bekerja pada malam sebelum tragedi terjadi.

Presiden LSM LABRAK, Riefqy Athaullah mempertanyakan redaksi rilis tersebut.

Menurutnya, penegasan itu justru mengindikasikan adanya hal yang ingin dibenamkan.

“Kalau benar tidak ada alat berat, mengapa poin itu ditekankan kuat? Biasanya sesuatu yang ingin diluruskan berlebihan justru menyimpan tanda tanya.”

Kata Presiden LSM LABRAK.

 

 

Versi Saksi Lapangan Justru Berbeda

Saksi mata menyebut Ekskavator FM bekerja hingga larut malam “Lubang runtuhan diduga kuat hasil galian alat berat FM tersebut, area tampak baru diratakan, bekas alat berat masih basah, poin ini tidak muncul dalam rilis polisi.” Ungkap Riefqy dengan penuh keheranan.

 

 

 

Menurutnya, Kemunculan Uang yang ternyata lebih dari Rp10 Juta ini ,terkonfirmasi senilai Rp.15 juta dan konsep dengan Surat Tidak Keberatan beberapa jam setelah kejadian, yang di serahkan Aba Muku(kakak FM-red)yang kemudian datang ke rumah istri salah satu korban di Popayato, makin memberi gambaran kuat dugaan keterlibatan FM dalam tragedi hilangnya nyawa manusia di Peti Bulangita.

Uang ini dipertanyakan publik,Apakah ini signal ‘Pembungkaman kasus?!’ , sementara Fakta lain bahwa hadirnya beberapa oknum wartawan yang turut mengantar uang dan surat serta Rekaman Video salah satu wartawan yang berujar kalimat ; “Sudah selesai, jangan ributkan lagi” Menjadi dugaan “Konspirasi Hening”

 

 

Presiden LSM LABRAK menyebut adanya indikasi “konspirasi hening ‘yang terstruktur’ pihak yang pemilik alat berat, pihak pengantar uang, APH yang diam dan surat pernyataan tidak keberatan yang di duga telah di konsep oleh oknum media yang notabenenya untuk meredam pemberitaan, serta kemungkinan terkoneksi dengan oknum APH menjadi semakin tajam aromanya.

 

“Ada jaringan informal yang bekerja cepat dan diam diam tiap kali nyawa melayang. Ini bukan pola baru.” sebut Riefqy

 

Pola Repetitif di Tambang Pohuwato menurut Riefqy dapat di analisa dari Sejumlah tragedi sebelumnya yang menunjukkan kemiripan gejala. Tragedi Potabo, tragedi Tomula, Tragedi Alamotu dan terakhir Tragedi Bulangita, menunjukkan pola berulang.

 

Surat “tidak keberatan”, uang santunan kecil, oknum yang sama terlihat, pemberitaan diredam dan bahkan insting penyidik Kepolisian yang terlihat “TUMPUL”.

Fenomena ini mengarah pada obstruction of justice yang termanage dengan rapi dan bahkan tak menutup Kemungkinan ada bayang bayang gelap backingan “Oknum aparat” kata dia.

bukan institusi Polri, melainkan oknum perorangan yang mungkin memanfaatkan jabatan. Dugaan ini muncul setelah rilis yang menonjolkan ketiadaan alat berat yang minim pendalaman TKP,keberanian pihak tertentu “mengatur” keluarga korban.

 

“Kalau tidak ada angin dukungan, siapa berani ngatur nyawa?” imbuh Riefqy serius dengan kening berkerut.

 

 

Desas desus ” uang atensi” memunculkan spekulasi miring tentang integritas Polisi dalam riuhnya tambang liar Pohuwato. Beberapa nama yang dikenal sebagai pengumpul atensi di tambang ilegal mulai disebut warga.

Mereka menyetor “ketenangan” di lapangan untuk menjaga ‘safety’ walaupun ada satu dua penambang yang jadi TUMBAL masuk jeruji.

 

Public Distrust Meningkat,beberapa bukti dokumen yang di kantongi LSM Labrak seperti foto alat berat, kesaksian warga, rekaman tekanan dari oknum mengarah pada fakta “Kalau memang bersih, kenapa buru-buru bawa uang dan surat pernyataan?” semakin menyeruak.

 

 

Sambil menghela napas berat, Aktivis ini berujar“ Jangan Kuburkan Kebenaran, Pohuwato tidak boleh jadi kuburan keadilan. Nyawa tidak bisa ditukar Rp15 juta.”

 

Pertanyaan Publik:

kenapa Polres menegaskan ‘tidak ada alat berat’? Padahal jejak di TKP menunjukkan ada alat berat beroperasi disitu dan ekskavator milik FM terlihat malam sebelumnya di TKP?

kenapa uang muncul tiba tiba?

kenapa ada wartawan mengawal surat?

siapa pengumpul atensi?

 

Jika mata publik ditutup, kebenaran terkubur seperti mayat para penambang yang gugur di PETI Pohuwato, lalu kepada siapa rakyat berharap keadilan??? ” Tegas Riefqy berat

 

 

Tim reporter lapangan akulturasipost.com menyusun Artikel ini berdasar ;

 

rilis kepolisian,

keterangan saksi,

pernyataan LSM,

data lapangan,

rekaman publik.

Semua pihak yang disebut berhak menyampaikan klarifikasi di buka di ruang “hak jawab”.

 

TIM REDAKSI

Berita Terkait

Dugaan TPPU belum terang, namun aktivitas PETI Hj. S masih terus beroprasi, penambang tradisional kabilasa mengaku dilarang beraktivitas
Diduga Beroperasi, Delapan Ekskavator Milik Haji S Digunakan dalam Aktivitas PETI di Botudulanga
Baznas dan Pemkab Pohuwato percepat penanganan bencana dan bantuan kemanusiaan
Hasil RDPU Belum Tuntas, Perusahaan malah makin menggila ; Talang Penambang Lokal diangkut ke Polres hingga HILANGNYA Data Izin di OSS Kian Jadi Sorotan
TMMD Ke-129 Pererat Kemanunggalan TNI-Rakyat Lewat Nobar Final Piala Dunia 2026
Dua Saksi Dipanggil Polisi, Penyelidikan Dugaan Pengancaman Terhadap Wartawan Berlanjut
YR TIM Pohuwato Konsisten Gelar Jumat Berkah, Tebar Kepedulian Sosial dan Perkuat Semangat Berbagi
TMMD Ke-129 Resmi Bergerak, Kodim 1313/Pohuwato Kebut Pembangunan Jalan, RTLH hingga Sarana Air Bersih di Makarti Jaya

Berita Terkait

Monday, 27 July 2026 - 03:14

Dugaan TPPU belum terang, namun aktivitas PETI Hj. S masih terus beroprasi, penambang tradisional kabilasa mengaku dilarang beraktivitas

Sunday, 26 July 2026 - 08:59

Diduga Beroperasi, Delapan Ekskavator Milik Haji S Digunakan dalam Aktivitas PETI di Botudulanga

Friday, 24 July 2026 - 11:26

Baznas dan Pemkab Pohuwato percepat penanganan bencana dan bantuan kemanusiaan

Wednesday, 22 July 2026 - 14:04

Hasil RDPU Belum Tuntas, Perusahaan malah makin menggila ; Talang Penambang Lokal diangkut ke Polres hingga HILANGNYA Data Izin di OSS Kian Jadi Sorotan

Monday, 20 July 2026 - 08:52

TMMD Ke-129 Pererat Kemanunggalan TNI-Rakyat Lewat Nobar Final Piala Dunia 2026

Berita Terbaru