POHUWATO – Pendiri LSM LABRAK, Sonni Samoe, akhirnya angkat bicara menanggapi berbagai pemberitaan yang menyerang dirinya secara pribadi. Menurutnya, serangan tersebut tidak akan mengubah komitmennya untuk terus memperjuangkan kepentingan masyarakat Pohuwato, khususnya penambang lokal yang selama ini menggantungkan hidupnya pada sumber daya alam daerah.
Sonni mengaku tidak pernah menyangka bahwa pilihannya membela rakyat harus dibayar dengan berbagai tuduhan dan serangan terhadap nama baiknya. Namun, ia menegaskan bahwa semua itu adalah risiko yang telah ia sadari sejak memutuskan berada di garis perjuangan.
“Saya bisa saja memilih diam. Saya bisa menikmati hidup tanpa harus berhadapan dengan tekanan. Tapi hati nurani saya tidak mengizinkan saya menutup mata ketika melihat rakyat kecil kehilangan ruang untuk didengar,” ujar Sonni.
Ia menilai, pemberitaan yang beredar lebih banyak membahas siapa dirinya daripada menjawab substansi persoalan yang selama ini ia sampaikan kepada publik.
“Yang saya pertanyakan adalah persoalan hukum dan tata kelola. Kalau saya dianggap keliru, bantahlah dengan dokumen, data, dan argumentasi hukum. Jangan mengalihkan perhatian publik dengan menyerang pribadi saya.”
Menurut Sonni, perjuangannya bukan untuk mencari musuh ataupun menghambat investasi. Ia justru mendukung investasi yang berjalan sesuai hukum dan memberi manfaat bagi masyarakat. Namun, ia menegaskan bahwa investasi tidak boleh menghilangkan hak rakyat untuk bertanya, mengawasi, dan menyampaikan kritik.
“Saya tidak sedang membela kepentingan pemodal. Saya membela rakyat yang hidup di tanah ini. Saya membela penambang lokal yang mencari nafkah untuk keluarganya, petani yang menggantungkan hidup pada lahannya, dan masyarakat yang berharap sumber daya alam benar-benar membawa kemakmuran bagi daerah.”
Sonni mengaku telah meninggalkan kenyamanan hidup bertahun-tahun lalu untuk memilih jalan perjuangan bersama masyarakat. Karena itu, ia tidak akan mundur hanya karena menghadapi tekanan atau upaya mendiskreditkan dirinya.
“Kalau tujuan saya mencari kenyamanan, saya tidak akan berada di jalan ini. Jalan perjuangan selalu penuh risiko. Nama baik bisa diserang, niat baik bisa dipelintir. Tapi saya percaya, lebih baik menanggung risiko karena membela rakyat daripada menikmati kenyamanan dengan mengabaikan suara mereka.”
Ia juga mengajak seluruh pihak untuk mengedepankan dialog yang sehat dan berbasis fakta. Menurutnya, perbedaan pandangan harus diselesaikan melalui pembuktian, bukan dengan pelabelan atau serangan terhadap pribadi.
“Biarkan hukum, data, dan dokumen yang berbicara. Jangan biarkan ruang publik dipenuhi narasi yang menjauhkan masyarakat dari substansi persoalan.”
Menutup pernyataannya, Sonni menyampaikan bahwa ia akan tetap berdiri bersama masyarakat Pohuwato.
“Mungkin saya tidak memiliki kekuatan modal. Mungkin saya tidak memiliki kekuasaan. Tetapi saya masih memiliki hati nurani. Dan selama hati nurani itu masih hidup, saya akan tetap memilih berdiri di sisi rakyat. Sebab saya percaya, sejarah tidak akan bertanya seberapa besar kekuasaan yang kita miliki, melainkan di pihak siapa kita berdiri ketika rakyat membutuhkan pembelaan.”






