akulturasipost.com ,Pohuwato — Dinamika kasus kematian dua pekerja tambang di Bulangita semakin memanas setelah tim investigasi GASSPOLL (Gabungan Ormas Pohuwato Lipu Lami) menemukan satu unit ekskavator merk LiuGong yang diduga kuat merupakan alat berat yang digunakan untuk menggali lubang tempat korban ditemukan tewas.
Ekskavator tersebut ditemukan kurang lebih 1 kilometer dari lokasi kejadian, tertutup rapat di dalam semak belukar dan jauh dari jalur aktivitas tambang utama dan dari TKP. Temuan ini dianggap tidak wajar, mengingat alat berat pada umumnya diparkir di area terbuka untuk mempermudah mobilisasi teknis.
Lebih mengejutkan lagi:
Posisi ekskavator berhasil diidentifikasi lengkap oleh tim investigasi pada titik koordinat 0,478112 ; 121,948911°
Pihak GASSPOLL menyebut lokasi alat tersebut dimaksudkan untuk “disembunyikan” agar tidak menjadi perhatian umum maupun aparat penegak hukum.
Dalam audiensi resmi, Kasat Reskrim Polres Pohuwato AKP Khoirunnas, SIK, MH, mengakui bahwa berdasarkan Berita Acara Pemeriksaan (BAP), Ferdi Mardain mengakui lubang itu adalah hasil galian aktivitasnya.
Namun, FM mengakui hal itu terjadi empat bulan lalu.
Pernyataan tersebut dipatahkan oleh bukti warga yang melihat operator ekskavator bekerja dua hari sebelum kejadian.
Muncul spekulasi publik:
Mengapa alat dipindahkan jauh ke dalam belukar setelah kejadian?
Siapa yang diperintahkan transfer tersebut?
Mengapa alat itu tidak diamankan oleh penyidik?
Pengamat tambang ilegal menilai, penyembunyian alat berat adalah pola klasik untuk memutus bukti teknis seperti:
umur galian,
bentuk bucket,
tekanan beban tanah,
residu struktur tebing.
Hingga saat ini, ekskavator LiuGong tersebut belum dikirim oleh pihak penyidik.
Tim investigasi GASSPOLL menegaskan:
“Selama alat berat ini tidak diamankan, kebenaran teknis akan terus menguap.”
Bersambung…… (Tim Redaksi)






