akulturasipost, Pohuwato — Panorama laut di sekitar Pohon Cinta kembali memukau, Minggu (11/01/26). Warna laut yang sempat kusam kini berangsur pulih ke rona aslinya—hijau dan biru—menandai kembalinya kejernihan perairan yang selama ini menjadi kebanggaan warga dan destinasi favorit pengunjung.
Pemulihan ini dipastikan sebagai dampak langsung dari penertiban tegas aktivitas pertambangan tanpa izin (PETI) di areal Tambang Bulangita yang dilakukan jajaran kepolisian. Sejak operasi penertiban digelar, aliran sungai di sekitar jembatan Pohon Cinta yang sebelumnya mengalirkan air keruh berwarna cokelat ke laut, kini kembali jernih sehingga tidak lagi mengganggu panorama pesisir.
Sebelumnya, masyarakat—khususnya pelaku usaha kecil yang berjualan makanan di kawasan wisata—mengeluhkan penurunan kualitas lingkungan. Aktivitas tambang “bulan hitam” disebut mencemari dan mengontaminasi air sungai. Dampaknya, distribusi sedimen ke laut membuat pemandangan tercemar dan kunjungan wisatawan menurun. “Dulu air sungai cokelat dan laut jadi keruh. Sekarang sudah jernih lagi, pemandangan kembali indah,” ujar salah seorang pedagang.
Hari ini, suasana berubah. Warga menyuguhkan kembali panorama laut yang bersih kepada pengunjung, disertai ungkapan syukur atas pemulihan lingkungan. Masyarakat juga menyampaikan terima kasih kepada Kapolres Pohuwato, Busroni, yang dinilai berani mengambil langkah penertiban secara masif. “Selama ini belum ada Kapolres yang berani bertindak seberani ini. Baru kali ini kami merasakan dampaknya langsung,” kata warga setempat.
Langkah penertiban tersebut dinilai bukan hanya menegakkan hukum, tetapi juga memulihkan ekosistem pesisir dan menghidupkan kembali ekonomi warga di kawasan wisata Pohon Cinta. Laut yang kembali hijau–biru kini menjadi simbol harapan: ketika hukum ditegakkan, alam dan masyarakat sama-sama pulih. (tim redaksi)






