akulturasipost.com, Pohuwato — Matahari belum sepenuhnya tenggelam ketika jalanan Desa Duhiadaa mulai dipenuhi wajah-wajah lelah yang menunggu waktu berbuka. Mesin motor menderu pelan, debu tipis terangkat dari aspal, dan di antara hiruk pikuk itu, sekelompok pemuda berdiri membawa paket takjil hangat — seolah ingin menahan waktu agar senja terasa lebih manusiawi.
Mereka tidak datang dengan suara keras. Tidak membawa spanduk besar atau panggung megah. Hanya senyum, langkah cepat, dan tangan yang terus bergerak membagikan kebaikan.
Itulah momen ketika Karang Taruna (KT) Pohuwato bersama YR Team memilih menghadirkan Ramadhan dengan cara yang sederhana namun menyentuh: turun langsung ke jalan, menyapa warga, dan berbagi kebahagiaan sebelum azan magrib berkumandang.
Satu per satu paket takjil berpindah tangan. Seorang pengendara menerima sambil tersenyum lega. Seorang ibu menatap haru sebelum mengucapkan terima kasih. Anak-anak kecil menunggu giliran dengan mata berbinar. Di tengah kesibukan itu, kebaikan terasa begitu dekat—seolah tidak ada jarak antara yang memberi dan yang menerima.
Ketua KT Pohuwato, Abdul Karim Pakaya, tampak berjalan di antara relawan. Ia menyapa warga satu per satu, memastikan setiap orang pulang dengan senyum.
“Kami ingin Ramadhan ini tidak hanya dirasakan secara pribadi, tetapi menjadi kebahagiaan bersama,” ujarnya.
Takjil yang disebarkan pun bukan sekadar makanan berbuka. Bubur ayam hangat dan aneka kue tradisional berasal dari pelaku UMKM lokal — sebuah pilihan yang sengaja diambil agar manfaat kegiatan ini mengalir lebih jauh, menghidupkan ekonomi desa sekaligus memperkuat solidaritas sosial.
Para lawan bekerja tanpa banyak bicara. Peluh membasahi wajah mereka, tetapi tawa tetap pecah di sela-sela aktivitas. Setiap senyum warga seolah menjadi energi baru yang membuat langkah mereka terus ringan.
Bagi Abdul Karim, aksi ini adalah pesan sederhana dari anak muda untuk masyarakat.
“Kami ingin menunjukkan bahwa kepedulian itu nyata. Tidak harus besar, yang penting dilakukan dengan hati,” katanya.
Saat azan magrib akhirnya terdengar, jalanan perlahan lengang. Paket terakhir pun habis terbagi. Para relawan berdiri sejenak, memandang senja yang hampir hilang — lelah, namun dengan rasa puas yang sulit dijelaskan.
Jadi, Ramadhan di Duhiadaa bukan hanya tentang menunggu berbuka. Ia menjadi cerita tentang tangan-tangan muda yang memilih bergerak, tentang kebersamaan yang lahir tanpa diminta, dan tentang kebaikan yang menyebar diam-diam namun meninggalkan jejak yang panjang.
Karena terkadang, sebelum suara azan memanggil orang untuk berhenti sejenak, ada manusia-manusia muda yang lebih dulu bergerak — memastikan tak seorang pun merasa sendirian saat menunggu waktu berbuka. (Redaksi)





