“Di Mimbar Bicara Surga, Tapi Rakyat Menangis Mencari Keadilan”

Wednesday, 4 March 2026 - 05:02

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

OPINI

Penulis: SONNI SAMOE

Pendiri LSM LABRAK.

Bulan Ramadhan sering menghadirkan pemandangan yang indah: masjid penuh, suara ceramah menggema, ayat-ayat Al-Qur’an dibacakan dengan penuh penghayatan. Tidak jarang kita melihat aparat—termasuk polisi—berdiri di mimbar masjid, memberi nasehat tentang kejujuran, amanah, dan takut kepada Allah. Itu tentu sesuatu yang baik. Agama memang harus hadir dalam kehidupan.
Namun di dalamnya muncul pertanyaan yang menyentuh hati nurani: apakah kata-kata di mimbar itu benar-benar turun menjadi tindakan dalam tugas sehari-hari?
Sebab dalam ajaran Islam, Allah sangat keras memperingatkan orang yang mengatakan kebaikan tetapi tidak melakukannya.
Allah berfirman dalam QS As-Shaff ayat 2–3:
“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.”
Ayat ini bukan hanya untuk ulama atau ustaz. Ayat ini berlaku bagi siapa saja yang berbicara tentang kebenaran—termasuk aparat yang berdiri di mimbar masjid.
Bayangkan seorang polisi yang di malam Ramadhan menyampaikan ceramah tentang keadilan, amanah, dan larangan berbuat zalim. Jamaah mendengarkan dengan penuh hormat. Mereka percaya bahwa orang yang berbicara itu adalah penjaga hukum.
Tetapi bagaimana jika di luar negeri, ketika rakyat kecil datang mencari keadilan, laporan mereka diabaikan?
Bagaimana jika orang kuat lebih mudah didengar daripada orang lemah?
Bagaimana jika hukum berjalan lambat ketika menanyakan keadilan adalah rakyat kecil?
Di situlah hati rakyat mulai retak.
Karena bagi rakyat kecil, ceramah yang paling kuat bukanlah kata-kata yang di mimbar, namun keadilan yang mereka rasakan.
Rasulullah ﷺ pernah diperingatkan bahwa salah satu manusia yang paling berat azabnya adalah orang yang mengetahui kebenaran tetapi tidak mengamalkannya. Sebab ilmu tanpa amal dikhianati terhadap kebenaran itu sendiri.
Seorang polisi memikul amanah yang sangat besar. Seragam yang dipakai bukan sekadar simbol kekuasaan; ia adalah simbol perlindungan bagi rakyat yang lemah.
Setiap laporan masyarakat adalah tangisan yang didengarkan.
Setiap perkara yang ditangani adalah ujian amanah.
Oleh karena itu, ketika seorang aparat berdiri di mimbar masjid dan berbicara tentang kejujuran, sesungguhnya ia sedang menutupi dirinya sendiri. Kata-kata itu akan menjadi Saksi—apakah ia benar-benar menjalankannya atau justru melupakannya.
Ramadhan adalah bulan yang sangat jujur.
Ia menyingkapkan siapa yang benar-benar takut kepada Allah dan siapa yang hanya terlihat saleh di hadapan manusia.
Sebab orang bisa menipu manusia dengan kata-kata,
tetapi tidak ada yang bisa menipu Allah dengan ceramah.
Maka kepada para aparat yang sering menyampaikan nasehat di masjid, rakyat tidak ingin mengejek atau mengutuk. Rakyat justru berharap sesuatu yang lebih tinggi:
menjadikan seragam itu sebagai ceramah yang hidup.
Tegakkan mengecewakan meski yang datang adalah orang kecil.
Dengarkan laporan rakyat dengan hati yang jujur.
Jangan biarkan kekuasaan membuat hati menjadi keras.
Karena ketika seorang polisi menegakkan keadilan dengan tulus, ia tidak perlu banyak ceramah.
Masyarakat sudah melihat sendiri nilai-nilai Islam hidup dalam tindakannya.
Dan sering kali, satu keputusan yang adil bagi rakyat kecil lebih bernilai di sisi Allah daripada seribu ceramah yang tidak pernah diwujudkan dalam perbuatan.
Di bulan Ramadhan ini, mungkin mimbar yang paling mulia bukanlah mimbar kayu di masjid.
Tetapi mimbar keadilan di mana seorang aparat memilih untuk tetap jujur, meskipun tidak ada yang melihat—kecuali Allah.

Berita Terkait

Dugaan TPPU belum terang, namun aktivitas PETI Hj. S masih terus beroprasi, penambang tradisional kabilasa mengaku dilarang beraktivitas
Diduga Beroperasi, Delapan Ekskavator Milik Haji S Digunakan dalam Aktivitas PETI di Botudulanga
Baznas dan Pemkab Pohuwato percepat penanganan bencana dan bantuan kemanusiaan
Hasil RDPU Belum Tuntas, Perusahaan malah makin menggila ; Talang Penambang Lokal diangkut ke Polres hingga HILANGNYA Data Izin di OSS Kian Jadi Sorotan
TMMD Ke-129 Pererat Kemanunggalan TNI-Rakyat Lewat Nobar Final Piala Dunia 2026
Dua Saksi Dipanggil Polisi, Penyelidikan Dugaan Pengancaman Terhadap Wartawan Berlanjut
YR TIM Pohuwato Konsisten Gelar Jumat Berkah, Tebar Kepedulian Sosial dan Perkuat Semangat Berbagi
TMMD Ke-129 Resmi Bergerak, Kodim 1313/Pohuwato Kebut Pembangunan Jalan, RTLH hingga Sarana Air Bersih di Makarti Jaya

Berita Terkait

Monday, 27 July 2026 - 03:14

Dugaan TPPU belum terang, namun aktivitas PETI Hj. S masih terus beroprasi, penambang tradisional kabilasa mengaku dilarang beraktivitas

Sunday, 26 July 2026 - 08:59

Diduga Beroperasi, Delapan Ekskavator Milik Haji S Digunakan dalam Aktivitas PETI di Botudulanga

Friday, 24 July 2026 - 11:26

Baznas dan Pemkab Pohuwato percepat penanganan bencana dan bantuan kemanusiaan

Wednesday, 22 July 2026 - 14:04

Hasil RDPU Belum Tuntas, Perusahaan malah makin menggila ; Talang Penambang Lokal diangkut ke Polres hingga HILANGNYA Data Izin di OSS Kian Jadi Sorotan

Monday, 20 July 2026 - 08:52

TMMD Ke-129 Pererat Kemanunggalan TNI-Rakyat Lewat Nobar Final Piala Dunia 2026

Berita Terbaru