Akulturasipost, –Kondisi layanan kesehatan di Pulau Kei Besar, Kabupaten Maluku Tenggara, masih menghadapi berbagai kendala serius, terutama terkait keterbatasan fasilitas penunjang. Persoalan ini menjadi sorotan dalam Workshop Percepatan Pembangunan Kabupaten Maluku Tenggara Tahun 2026 yang digelar di Jakarta pada Rabu (8/4/2026).
Bupati Maluku Tenggara, Muhammad Thaher Hanubun, menjelaskan bahwa pelayanan kesehatan di wilayah perbatasan tersebut belum sepenuhnya berjalan maksimal. Walaupun Rumah Sakit Pratama Elat telah dioperasikan sejak akhir 2025, minimnya sarana pendukung seperti ambulans masih menjadi hambatan dalam memberikan layanan optimal kepada masyarakat.
Ia juga menyoroti keterbatasan fasilitas bagi tenaga kesehatan. Saat ini, sebagian besar tenaga medis—sekitar 80 persen—masih harus menumpang tinggal di rumah warga karena belum tersedia hunian dinas yang memadai.
Di tingkat pelayanan dasar, kondisi infrastruktur juga belum merata. Dari 11 puskesmas yang ada di Pulau Kei Besar, hanya tiga yang berada dalam kondisi baik, sementara sisanya mengalami kerusakan dengan tingkat ringan hingga berat.
Situasi yang lebih mengkhawatirkan terjadi pada puskesmas pembantu. Dari total 18 unit, hanya dua yang layak digunakan, sedangkan sebagian besar lainnya berada dalam kondisi rusak sedang hingga berat. Hal ini berdampak langsung pada kualitas pelayanan kesehatan yang diterima masyarakat setempat.
Dampak keterbatasan tersebut tercermin pada capaian indikator kesehatan. Pada tahun 2025, layanan kesehatan bagi ibu hamil baru menjangkau 58,13 persen. Selain itu, tercatat sembilan kasus kematian bayi, sementara cakupan pelayanan kesehatan bagi bayi baru lahir baru mencapai 68,25 persen.
Pemerintah daerah pun menempatkan persoalan ini sebagai prioritas, guna mendorong pemerataan dan peningkatan kualitas layanan kesehatan, khususnya di wilayah perbatasan yang masih tertinggal.






