Akulturasipost, POHUWATO — Lembaga Aksi Bela Rakyat (LSM LABRAK) memasuki babak penting dalam perjalanan organisasinya. Hari ini, Selasa (13/10/2026), LABRAK menggelar Musyawarah Besar (MUBES) XI sekaligus Pemilihan Presiden (PILPRES), sebuah momentum yang bukan sekadar menentukan siapa pemimpin berikutnya, tetapi juga mempertaruhkan kesinambungan perjuangan dan masa depan kaderisasi organisasi.
Tujuh kandidat tampil dalam kontestasi memperebutkan satu mandat kepemimpinan, yakni Arfin Naki, Muhtar Sahari, Tri Jayudi L., Jamal Yusuf, Irwan Hanggu, Elvis Yusuf, dan Ismail Tino. Ketujuh nama tersebut menjadi bagian dari proses demokrasi internal LABRAK untuk menentukan sosok yang akan menerima tanggung jawab memimpin organisasi dan meneruskan estafet perjuangan.
MUBES XI bukan sekadar agenda pergantian jabatan. Forum ini menjadi ruang untuk mengevaluasi perjalanan organisasi, membahas Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), memperkuat tata kelola, serta merumuskan arah perjuangan ke depan. Di balik proses pemilihan, tersimpan pertanyaan mendasar: mampukah LABRAK melahirkan pemimpin baru tanpa kehilangan idealisme dan keberanian yang selama ini menjadi bagian dari perjuangannya?
Dalam perjalanan advokasinya di Pohuwato, LABRAK mengambil bagian dalam berbagai persoalan publik, mulai dari pertambangan, konflik masyarakat dengan perusahaan, kerusakan lingkungan, hingga tuntutan transparansi dan penegakan hukum. Berbagai persoalan tersebut menjadi pengingat bahwa perjuangan membela rakyat membutuhkan konsistensi, keberanian, kecermatan membaca fakta, serta kemampuan mengawal persoalan sampai pada penyelesaian.
Dewan Pendiri LABRAK menempatkan kaderisasi sebagai salah satu warisan terpenting organisasi. Pesan yang hendak ditegaskan dalam momentum ini adalah bahwa LABRAK tidak boleh selamanya bergantung pada satu figur. Organisasi harus mampu membangun sistem yang kuat, membuka ruang bagi generasi penerus, dan melahirkan kader yang siap memikul tanggung jawab perjuangan.
“Jangan wariskan ketergantungan kepada generasi penerus. Wariskan keberanian, integritas, pengetahuan, dan kesetiaan kepada rakyat. Organisasi yang kuat bukan organisasi yang bergantung pada satu pemimpin, melainkan organisasi yang mampu melahirkan pemimpin-pemimpin baru. Jabatan boleh berakhir, tetapi tanggung jawab terhadap perjuangan rakyat tidak boleh ikut berakhir,” demikian pesan inspiratif yang dirumuskan untuk menegaskan pentingnya regenerasi LABRAK.
Persaingan tujuh kandidat menjadi ujian kedewasaan demokrasi internal. Setiap kandidat memiliki kesempatan untuk menawarkan gagasan dan arah kepemimpinan. Namun, siapa pun yang terpilih nantinya harus menyadari bahwa jabatan Presiden LABRAK bukan sekadar kehormatan, melainkan amanah untuk memperkuat organisasi, meningkatkan kualitas advokasi, membangun kaderisasi berkelanjutan, dan menjaga kepercayaan masyarakat.
Pada akhirnya, keberhasilan MUBES XI tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memperoleh mandat. Ukuran yang lebih besar adalah apakah LABRAK mampu keluar dari forum dengan organisasi yang semakin solid, aturan yang semakin kuat, kader yang semakin matang, dan agenda perjuangan yang semakin terarah. Demokrasi harus memperkuat persatuan, bukan melahirkan perpecahan; regenerasi harus memperluas kekuatan, bukan sekadar mengganti nama dalam struktur kepemimpinan.
Hari ini, LABRAK bukan hanya memilih seorang presiden, tetapi juga menentukan bagaimana api perjuangan diwariskan kepada generasi berikutnya. Tujuh kandidat boleh bersaing, satu orang akan menerima mandat, tetapi tanggung jawab menjaga marwah organisasi tetap menjadi milik bersama. Pemimpin boleh berganti, generasi boleh berganti, tetapi selama keadilan masih harus diperjuangkan dan suara rakyat masih membutuhkan pembelaan, api LABRAK tidak boleh padam.(Tim Redaksi)






