POHUWATO — Kontestasi Pemilihan Presiden Lembaga Aksi Bela Rakyat (LSM LABRAK) hingga saat ini masih berlangsung. Di Sekretariat Rusunawa Syah, Desa Teratai, Kecamatan Marisa, Kabupaten Pohuwato, Musyawarah Besar (MUBES) XI menjadi panggung penting bagi tujuh kandidat yang bersaing memperebutkan mandat kepemimpinan sekaligus menentukan arah perjalanan organisasi ke depan.
Ketujuh kandidat tersebut adalah Arfin Naki, Muhtar Sahari, Tri Jayudi L., Jamal Yusuf, Irwan Hanggu, Elvis Yusuf, dan Ismail Tino. Nama-nama ini kini menjadi bagian dari proses demokrasi internal yang dinantikan hasilnya. Namun, di balik persaingan tersebut, terdapat pertanyaan yang jauh lebih besar daripada sekadar siapa yang akan terpilih: siapa yang akan mampu menjaga khittah perjuangan dan membawa organisasi menghadapi tantangan berikutnya?
MUBES XI bukan sekadar pergantian figur. Forum ini menjadi momentum untuk membahas aturan organisasi, mengevaluasi perjalanan kepemimpinan, memperkuat konsolidasi, dan menegaskan kembali arah perjuangan. Selama proses pemilihan masih berlangsung, perhatian tertuju pada dinamika musyawarah dan mekanisme demokrasi yang akan menentukan penerima mandat secara sah.
Dalam perjalanan advokasinya, LABRAK mengambil bagian dalam berbagai persoalan publik di Pohuwato, termasuk isu pertambangan, konflik masyarakat dengan perusahaan, kerusakan lingkungan, serta tuntutan transparansi dan penegakan hukum. Rekam perjalanan tersebut menjadi pengingat bahwa kepemimpinan baru nantinya tidak hanya mewarisi nama organisasi, tetapi juga tanggung jawab untuk melanjutkan kerja-kerja advokasi yang membutuhkan keberanian, kecermatan, dan konsistensi.
Dewan Pendiri menempatkan kaderisasi sebagai salah satu agenda penting dalam menjaga keberlanjutan perjuangan. Pesan yang mengemuka adalah bahwa organisasi tidak boleh bergantung selamanya pada satu figur. Pemimpin boleh berganti, tetapi nilai perjuangan harus tetap hidup; jabatan boleh berpindah, tetapi tanggung jawab terhadap rakyat tidak boleh ditinggalkan. Kaderisasi harus melahirkan generasi yang mampu meneruskan perjuangan dengan integritas, pengetahuan, dan keberanian mengambil tanggung jawab.
Siapa pun yang nantinya memperoleh mandat akan menghadapi pekerjaan besar: memperkuat persatuan internal, membangun sistem organisasi yang lebih kokoh, meningkatkan kualitas advokasi, serta membuka ruang bagi kader-kader baru untuk berkembang. Karena itu, proses PILPRES ini bukan hanya ujian bagi para kandidat, tetapi juga ujian kedewasaan seluruh kader dalam menjaga demokrasi dan menghormati hasil musyawarah.
Hingga berita ini disusun, PILPRES masih berlangsung dan belum ada hasil akhir yang dapat diumumkan. Publik kini menanti bagaimana proses tersebut berakhir dan siapa yang akan menerima amanah memimpin organisasi. Di Teratai, yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar nama seorang presiden, melainkan kesinambungan sebuah perjuangan. Sebab, sejarah baru tidak ditulis hanya ketika pemenang diumumkan, tetapi ketika mandat yang diberikan benar-benar diwujudkan menjadi kerja nyata bagi organisasi dan masyarakat.






