Akulturasipost, Pohuwato—Setelah viral di media sosial, pengakuan Kepala Dusun Utara Desa Sipayo, Kecamatan Paguat, Rahmad Karim, mengundang perhatian publik. Ia mengaku mengalami tekanan psikis dan mental pasca beredarnya video pernyataan terima kasih atas penertiban Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang disebut-sebut dikonsep oleh oknum anggota Polsek Paguat yang bertugas sebagai Bhabinkamtibmas, Senin (19/01/2026).
Rahmad Karim menuturkan, video tersebut dibuat atas permintaan Bhabinkamtibmas Desa Sipayo. Awalnya, ia menolak karena merasa takut dan tidak nyaman. Namun, setelah diperlihatkan sejumlah video serupa dari unsur pemerintah desa di Kecamatan Dengilo, ia akhirnya menyetujui pembuatan video tersebut.
“Video ini saya buat atas permintaan Bhabinkamtibmas di Desa Sipayo. Awalnya saya menolak karena merasa takut, tetapi setelah diperlihatkan video serupa dari pemerintah desa di Kecamatan Dengilo, akhirnya saya membuat video itu,” ungkap Rahmad Karim.
Video yang kemudian beredar luas itu berisi pernyataan apresiasi kepada Kapolres Pohuwato atas penertiban PETI di Kecamatan Dengilo. Dalam video tersebut, Rahmad menyampaikan bahwa penertiban tambang ilegal berdampak pada membaiknya kualitas air yang mengalir hingga ke wilayah Desa Sipayo.
Namun, di luar dugaan, video tersebut justru menuai berbagai reaksi di media sosial. Sejumlah komentar di platform Facebook, menurut Rahmad, bernada merendahkan dan berujung pada perundungan terhadap dirinya.
“Ada beberapa postingan dan komentar di Facebook yang membuat mental saya terpukul. Saya tidak menyangka video ini akan viral dan berdampak seperti ini,” ujarnya.
Rahmad Karim mengaku tekanan yang dialaminya tidak hanya berdampak secara emosional, tetapi juga memengaruhi kondisi psikologisnya dalam menjalani aktivitas sehari-hari sebagai aparat desa.
Tim Redaksi






