Opini ; Muhammad Rusli Laki
Aktivis Pemuda Pohuwato
Pernyataan yang mengatasnamakan diri sebagai aktivis belakangan ini justru terasa menggelitik. Bukan karena tajam, tetapi karena dangkal. Cara pandang yang dipertontonkan menunjukkan minimnya pemahaman terhadap dinamika yang benar-benar terjadi di Pohuwato. Seolah berbicara lantang, namun tanpa pijakan pengetahuan yang utuh.
Persoalan di daerah ini bukan sekadar opini liar yang bisa dibentuk sesuka hati. Kita sedang berhadapan dengan kisruh serius, mulai dari putusan Mahkamah Agung hingga belum tuntasnya alokasi Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) dan Izin Pertambangan Rakyat (IPR). Ketidakjelasan ini melahirkan ketimpangan—kompetisi ruang hidup yang tidak adil bagi masyarakat lokal.
Di satu sisi, perusahaan tampak seperti entitas tunggal yang mendapat karpet merah untuk mengelola sumber daya alam Pohuwato. Di sisi lain, penambang lokal justru dihadapkan pada tekanan, bahkan tidak sedikit yang mengalami intimidasi dan kriminalisasi. Ini bukan sekadar konflik kepentingan, tetapi menyangkut hak hidup masyarakat di tanahnya sendiri.
Perlu dipahami, denyut ekonomi Pohuwato tidak bisa dilepaskan dari peran para penambang rakyat. Mereka adalah lokomotif ekonomi daerah. Ketika perjuangan mereka dilemahkan, sama saja dengan menembak jantung kehidupan Pohuwato. Dampaknya tidak berhenti pada penambang saja, tetapi merembet ke pedagang kecil, tukang ojek, hingga seluruh lapisan ekonomi bawah.
Ironisnya, pihak-pihak yang tampil membela perusahaan justru bukan bagian dari realitas lokal. Mereka tidak tumbuh dari tanah ini, tidak memahami konteks sosialnya, dan tidak memiliki kedalaman bacaan atas persoalan yang ada. Wajar jika kemudian muncul kecurigaan bahwa mereka sekadar menjadi corong kepentingan tertentu—membangun narasi tandingan untuk meredam perjuangan rakyat.
Jika memang merasa paling tahu, maka ruang diskusi terbuka selalu ada. Mari duduk bersama, adu gagasan, bukan sekadar menggiring opini. Sebab dalam situasi seperti ini, yang dibutuhkan bukan suara paling keras, tetapi pemikiran paling jernih.






