Akulturasipost,Maluku Utara—Langkah Dinas Pendidikan Kabupaten Maluku Tenggara mengangkat tema Lokal “Mengukir Adat Kei Menjadi Ilmu, Menenun Bakti Bagi Peradaban” dalam rangkaian Hardiknas 2026 mendapat sambutan hangat dan apresiasi tinggi dari Pemuda Muhammadiyah.
Kepada Media ini Sabtu, 25/04/2026 Ketua Pemuda Muhammadiyah Malra menyebut tema tersebut bukan sekadar rangkaian kata indah, melainkan sebuah visi pendidikan yang sangat matang dan menyentuh hati.
Pertama, konsep ini dinilai sangat tepat untuk membangun pendidikan yang berakar pada kearifan lokal. Hal ini menjadi jaminan agar anak-anak muda tidak kehilangan jati diri dan identitas budayanya sendiri.
“Upaya mengukir Adat Kei menjadi ilmu adalah upaya membentengi karakter. Nilai Larvul Ngabal yang menjadi sumber ilmu akan melahirkan generasi yang kuat dan bermartabat,” jelas mereka.
Kedua, filosofi menenun bakti mengajarkan bahwa pendidikan juga soal memberi manfaat dan mengabdi. Pendidikan diharapkan mampu menjahit keretakan sosial dan memperkuat ikatan persaudaraan atau Fangnanan.
Ketiga, tema ini juga sarat akan misi perdamaian. Mencintai adat berarti belajar menghormati, dan mencintai ilmu berarti belajar bertoleransi. Kombinasi inilah yang menjadi kunci kerukunan abadi.
“Di tengah tantangan zaman yang memecah belah, kembali pada adat dan ilmu adalah jalan terbaik menuju kedamaian yang sesungguhnya,” tambahnya.
Mereka pun menegaskan keyakinannya: “Pendidikan memuliakan adat, dan adat memajukan peradaban.”
Di akhir, Pemuda Muhammadiyah mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda, untuk bersatu padu mendukung agenda besar ini.
Mari kita tunjukkan bahwa dari Maluku Tenggara, lahir terobosan dan pemikiran besar yang bisa dibanggakan oleh bangsa.(Erick)






