Akulturasipost, HALMAHERA TENGAH Puluhan buruh yang tergabung dalam Aliansi Gerakan Buruh Bersama Rakyat (GEBRAK) menggelar aksi pada peringatan Hari Buruh Sedunia (May Day) 2026 di kawasan industri Halmahera Tengah. Aksi ini menjadi bentuk peringatan keras kepada manajemen PT Indonesia Weda Bay Industrial Park atas berbagai persoalan ketenagakerjaan.
Koordinator Lapangan, Julkarnaim Sunardi, menegaskan bahwa aksi tersebut bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan yang dirasakan buruh.
“Kita tidak sekadar merayakan hari buruh, tapi melawan ketidakadilan. Tanpa persatuan, suara buruh akan terus terbungkam,” tegas Julkarnaim dalam orasinya.
Dalam aksi tersebut, buruh menyampaikan sembilan tuntutan utama, dengan sorotan paling tajam pada dua isu krusial, yakni dugaan pelecehan seksual terhadap buruh perempuan dan praktik pungutan liar (pungli) oleh oknum di lingkungan kerja.
Menurut Julkarnaim, kasus pelecehan seksual harus dipandang sebagai kejahatan serius yang tidak boleh ditoleransi.
“Jika buruh perempuan tidak aman, maka seluruh buruh tidak aman. Ini bukan persoalan pribadi, ini kejahatan yang harus ditindak tegas,” ujarnya.
Sementara itu, orator aksi, Juliyan Udin, menambahkan bahwa praktik pungli yang diduga mencapai jutaan rupiah terhadap calon pekerja merupakan bentuk penindasan yang mencederai keadilan.
“Kami mendesak perusahaan segera menindak oknum pelaku pungli. Jangan biarkan pelaku tetap bekerja seolah tidak terjadi apa-apa,” kata Juliyan.
Selain dua isu utama tersebut, buruh juga menuntut perbaikan fasilitas transportasi, percepatan pembahasan PKB 2026, peningkatan standar keselamatan kerja, hingga kenaikan upah di sektor industri nikel.Aksi ditutup dengan seruan persatuan buruh untuk terus mengawal tuntutan hingga mendapat respons nyata dari pihak perusahaan. Aliansi GEBRAK menegaskan akan terus mengawal kasus pelecehan seksual dan pungli hingga ditindak sesuai hukum.(Tim Redaksi)





