Akulturasipost,POHUWATO — Jika Pohuwato selama ini lebih sering dikenal sebagai daerah agraris dan salah satu kawasan penghasil emas di Gorontalo, sesungguhnya kabupaten di ujung barat Provinsi Gorontalo ini menyimpan wajah lain yang tak kalah memikat: alam yang masih menyisakan banyak cerita.
Dari garis pantai yang menghadap Teluk Tomini, pulau-pulau kecil dengan panorama laut, perbukitan hijau, hingga perkampungan masyarakat Bajo yang berdiri di atas laut, Pohuwato memiliki bentang alam yang seolah mengajak siapa pun untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan.
Potensi itu bukan sekadar cerita promosi. Dokumen pemerintah daerah mencatat Pohuwato memiliki karakter wilayah pesisir dan pegunungan yang memberikan peluang besar bagi pengembangan wisata alam dan bahari. Sejumlah destinasi yang masuk dalam daftar potensi wisata antara lain Pantai Libuo, Pantai Pohon Cinta, Pulau Lahe, Air Terjun Lomuli, hingga Desa Wisata Torosiaje.
Libuo, Pantai yang Kembali Menghidupkan Geliat Wisata
Salah satu panorama yang kini kembali mendapat perhatian adalah Pantai Libuo di Kecamatan Paguat.
Pada 26–27 September 2026, kawasan Pantai Libuo menjadi pusat rangkaian kegiatan World Tourism Day ke-46 yang digelar Pemerintah Kabupaten Pohuwato melalui Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga.
Camping tourism, bersih-bersih pantai, olahraga bersama hingga diskusi pariwisata menjadi bagian dari kegiatan tersebut.
Momentum itu seperti mengingatkan kembali bahwa wisata tidak selalu harus dimulai dari tempat yang jauh dan mahal.
Kadang, sebuah perjalanan cukup dimulai dari hamparan pasir, suara ombak, angin laut yang bergerak perlahan dan matahari yang perlahan turun di ufuk.
Pantai Libuo memiliki karakter tersebut.
Letaknya yang berada di jalur Trans-Sulawesi juga menjadi salah satu modal penting untuk mengembangkan kawasan ini sebagai destinasi wisata yang mudah dijangkau.
Pohon Cinta, Wajah Wisata di Jantung Marisa
Beranjak ke pusat Kabupaten Pohuwato, terdapat Pantai Pohon Cinta yang telah lama menjadi salah satu ruang publik dan ikon wisata di kawasan Marisa.
Pantai ini memiliki daya tarik tersendiri karena berada tidak jauh dari pusat aktivitas masyarakat.
Hamparan laut, kawasan pesisir dan ruang terbuka menjadikannya bukan hanya tempat menikmati pemandangan, tetapi juga lokasi berbagai kegiatan masyarakat.
Pada Agustus 2026, kawasan Pantai Pohon Cinta kembali menjadi lokasi kegiatan jalan sehat yang melibatkan pemerintah daerah, Forkopimda, masyarakat dan sejumlah pihak lainnya.
Di tempat seperti inilah wisata memiliki makna yang lebih luas.
Bukan sekadar datang, berfoto, kemudian pulang.
Tetapi bagaimana sebuah ruang publik mampu mempertemukan masyarakat, menggerakkan aktivitas ekonomi dan sekaligus memperkenalkan wajah daerah kepada orang-orang yang datang dari luar Pohuwato.
Pulau Lahe dan Pesona Laut yang Belum Habis Dieksplorasi
Bagi pencinta wisata bahari, nama Pulau Lahe tentu menarik perhatian.
Pulau ini tercatat sebagai salah satu destinasi alam yang dikembangkan di Pohuwato. Pemerintah Provinsi Gorontalo juga mencatat Pulau Lahe sebagai kawasan yang memiliki pesona alam dan panorama bawah laut.
Di tengah bentangan Teluk Tomini, pulau-pulau kecil seperti Lahe menyimpan potensi besar untuk wisata bahari.
Laut yang terbuka, pulau yang relatif kecil, dan panorama pesisir memberikan pengalaman yang berbeda dibanding wisata perkotaan.
Bagi wisatawan, daya tariknya justru terletak pada kesan alami.
Jauh dari hiruk-pikuk kota.
Lebih dekat dengan suara ombak dan kehidupan laut.
Sebuah penelitian mengenai potensi ekowisata di Provinsi Gorontalo bahkan mengategorikan Pantai Pohon Cinta, Pulau Lahe, Torosiaje dan Pantai Libuo sebagai objek dengan potensi ekowisata tinggi di Kabupaten Pohuwato.
Torosiaje: Ketika Laut Menjadi Rumah
Namun ada satu destinasi yang menawarkan pengalaman berbeda.
Torosiaje.
Di Kecamatan Popayato, wisatawan dapat menemukan kehidupan masyarakat Suku Bajo yang telah lama menjadikan laut sebagai ruang hidup.
Rumah-rumah berdiri di atas permukaan laut. Jembatan menghubungkan permukiman. Perahu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Di antara rumah-rumah tersebut, wisatawan dapat melihat kehidupan masyarakat pesisir dari dekat.
Kementerian Pariwisata melalui platform Jadesta mencatat Torosiaje sebagai desa wisata dengan keunikan utama berupa pola kehidupan masyarakat Suku Bajo yang tinggal di atas laut. Destinasi ini juga menawarkan pengalaman budaya, kuliner, transportasi tradisional, serta panorama bawah laut.
Torosiaje akhirnya bukan sekadar destinasi untuk melihat laut.
Ia adalah tempat untuk memahami bagaimana manusia dan laut dapat hidup berdampingan.
Dari Pantai hingga Pegunungan
Keindahan Pohuwato juga tidak berhenti di garis pantai.
Kabupaten ini memiliki kawasan perbukitan, air terjun, dan danau yang menawarkan karakter wisata berbeda.
Air Terjun Lomuli di Kecamatan Lemito, misalnya, menjadi salah satu destinasi alam yang tercatat dalam pengembangan pariwisata Pohuwato. Ada pula sejumlah potensi lain seperti Pantai Lalape, Tanjung Maleo, Pulau Molombunae, Danau Delo, Danau Telaga hingga berbagai air terjun di sejumlah wilayah.
Bentang alam tersebut menunjukkan satu hal:
Pohuwato tidak hanya memiliki satu wajah wisata.
Ia memiliki laut.
Ia memiliki pulau.
Ia memiliki pantai.
Ia memiliki pegunungan.
Dan ia memiliki kehidupan masyarakat yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari lanskap tersebut.
Menjaga Keindahan Sebelum Menjadi Kenangan
Di balik potensi yang begitu besar, ada satu pesan penting yang tidak boleh dilupakan: semakin banyak orang datang, semakin besar pula tanggung jawab untuk menjaga alam.
Pantai tidak cukup hanya indah untuk difoto.
Laut tidak cukup hanya biru untuk diabadikan.
Hutan tidak cukup hanya hijau untuk menjadi latar belakang.
Semuanya membutuhkan pengelolaan.
Karena pariwisata yang tumbuh tanpa kepedulian terhadap lingkungan berisiko kehilangan alasan utama mengapa orang datang.
Karena itu, geliat wisata seperti yang berlangsung di Pantai Libuo pada momentum World Tourism Day 2026 menjadi penting. Kegiatan bersih-bersih pantai yang menjadi bagian dari agenda tersebut menunjukkan bahwa promosi wisata idealnya berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap lingkungan.
Pohuwato, Destinasi yang Menunggu untuk Diceritakan
Pohuwato mungkin belum menjadi nama pertama yang disebut ketika orang membicarakan destinasi wisata di Indonesia.
Namun justru di situlah daya tariknya.
Ada tempat-tempat yang belum terlalu ramai.
Ada garis pantai yang masih menawarkan ruang untuk menikmati matahari terbenam.
Ada pulau-pulau kecil yang menyimpan pesona bahari.
Ada pegunungan dan air terjun yang menawarkan kesunyian.
Dan ada Torosiaje, tempat laut bukan sekadar pemandangan, melainkan rumah dan bagian dari identitas masyarakat.
Pohuwato memiliki modal alam yang besar.
Yang dibutuhkan selanjutnya bukan hanya promosi, tetapi pengelolaan destinasi, akses yang baik, kebersihan, keamanan, fasilitas, keterlibatan masyarakat lokal dan perlindungan lingkungan.
Sebab wisata terbaik bukan hanya tentang tempat yang indah.
Wisata terbaik adalah ketika keindahan itu tetap ada setelah ribuan orang datang dan pergi.
Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika seseorang bertanya,
“Apa yang menarik dari Pohuwato?”
Jawabannya tidak lagi hanya tentang emas.
Tetapi juga tentang laut yang biru, pantai yang panjang, pulau-pulau yang menawan, pegunungan yang hijau, serta masyarakat yang menjaga kehidupan di antara semuanya.(Tim Redaksi)






