Randangan, Pohuwato — Senin, 8 Desember 2025, Pasar Randangan tak hanya sibuk oleh transaksi. Hari itu, tanah randangan berguncang oleh api solidaritas ketika LSM LABRAK turun langsung menggelar aksi kemanusiaan untuk saudara-saudara di Aceh yang dilanda bencana.
Bukan aksi biasa—tetapi seruan besar bahwa kemanusiaan harus berdiri, bergerak, dan bersuara!
Relawan LABRAK menetap seperti pasukan yang dikirim oleh nurani. Dengan kotak donasi di tangan dan tekad di dada, mereka menyusuri jalanan hingga lorong-lorong pasar, membakar semangat warga agar bangkit dan ikut membantu Aceh.
Dan yang terjadi mengejutkan semua orang: Randangan menjawab panggilan itu!
—
LABRAK: API PERJUANGAN YANG TAK PERNAH PADAM
Tak ada yang meragukan keberanian LABRAK dalam urusan advokasi.
Mereka biasa berdiri paling depan ketika masyarakat kecil membutuhkan suara.
Mereka biasa menjadi benteng ketika warga dipinggirkan.
Namun hari itu LABRAK menunjukkan satu hal penting:
Perjuangan bukan hanya menggugat. Perjuangan adalah hadir ketika bangsa membutuhkan.
Dalam hitungan jam, posko LABRAK diserbu warga. Donasi mengalir deras. Bahkan pedagang yang hanya punya sedikit pun tetap menyisihkan sebagian miliknya—tak peduli besar atau kecil, yang penting diserahkan dengan hati yang terbakar kepedulian.
—
RIEFQY ATHAULLAH, PRESIDEN LABRAK: “KITA TIDAK BISA DIAM! ACEH MEMANGGIL!”
Suara lantang itu datang dari Presiden LABRAK, Riefqy Athaullah, seorang tokoh muda yang dikenal tanpa kompromi dalam memperjuangkan rakyat. Kali ini, suaranya tak kalah keras, namun dilapisi rasa peduli yang membara.
> “Aceh hari ini terluka! Dan ketika Aceh terluka, seluruh bangsa harus bangkit! Kita tidak bisa diam, kita tidak bisa menunggu! LABRAK bergerak karena hati kami diguncang oleh penderitaan saudara-saudara kita!”
Ia menegaskan bahwa solidaritas bukan pilihan, tetapi kewajiban moral.
> “Orang mengenal kami sebagai lembaga yang lantang menggugat ketidakadilan. Tapi kemanusiaan menuntut lebih dari sekadar kata-kata—ia menuntut tindakan! Dan hari ini LABRAK membuktikan itu!”
Riefqy juga menggugah semangat warga Randangan dengan pesannya yang membakar:
> “Randangan bukan kota besar. Tapi hari ini Randangan menunjukkan jiwa besar! Dari pasar kecil ini, kita kirimkan gelombang bantuan untuk Aceh! Inilah Indonesia yang sesungguhnya—yang bergerak, yang peduli, yang berani!”
Dan ia menutup dengan tekad yang menggema:
> “Selama masih ada rakyat yang butuh uluran tangan, LABRAK akan ada di barisan depan! Api solidaritas ini tidak akan padam!”
—
RANDANGAN MENJADI MERAH OLEH SEMANGAT PERJUANGAN
Aksi kemanusiaan ini bukan hanya pengumpulan donasi.
Ini adalah perlawanan terhadap rasa acuh,
seruan melawan ketidakpedulian,
dan tanda bahwa bangsa ini masih hidup—dan membara.
Donasi mengalir. Seruan solidaritas menggema. Warga bergerak.
Dan dari Randangan, tersulutlah api harapan bagi Aceh. (tim Redaksi)






