Dosen UNIPO Jadi Korban Arogansi Kekuasaan, Dikeluarkan dari Grup karena Kirim Foto dan Video Aksi

Tuesday, 28 October 2025 - 10:47

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

POHUWATO – Dunia akademik yang seharusnya menjadi ruang dialog dan kebebasan berpikir, justru dipertontonkan dengan sikap arogansi oleh pejabat Universitas Pohuwato (UNIPO). Seorang dosen, Titi Hawanda Methania Kono, mendadak dikeluarkan dari grup WhatsApp kampus setelah mengirimkan dokumentasi aksi mahasiswa Fakultas Teknik di lingkungan kampus.

Langkah yang diambil PJ Rektor UNIPO itu menuai sorotan tajam. Banyak pihak menilai, tindakan tersebut menunjukkan wajah kekuasaan kampus yang semakin antikritik dan tidak siap menerima kenyataan sosial di dalam institusinya sendiri.

Kepada awak media, Titi menjelaskan kronologi kejadian. Ia mengatakan hanya membagikan foto dan video aksi mahasiswa tanpa embel-embel komentar provokatif. Namun tak lama setelah unggahan itu, ia mendapati dirinya telah dikeluarkan dari grup.

“Saya hanya kirim dokumentasi aksi mahasiswa, bukan hal yang melanggar. Tapi ternyata pimpinan seolah tak mau melihat dinamika mahasiswa. Ini sikap yang sangat tidak akademis,” ujarnya dengan nada kecewa.

Lebih jauh, Titi mengungkap adanya pesan bernada tekanan dari Bendahara UNIPO, yang diduga dikirim beberapa saat sebelum dirinya dikeluarkan dari grup. Isi pesan tersebut dinilai tidak pantas diucapkan oleh seorang pejabat struktural kampus:

“Lagi ada nga p foto kirim kamari metaa… memang nga itu ee.”

“Kirim kmri smua nga p vidio.. kirim kmri smua.”

“Awaas klau nga tdk mo b kirim kmri lagi.”

“Apa nga p mau metaa.”

Pesan-pesan itu, menurut Titi, bukan hanya bernada memerintah tetapi juga sarat dengan nada mengancam.

“Bahasa seperti itu tidak pantas keluar dari pejabat kampus. Ini bukan gaya komunikasi akademisi, tapi gaya kekuasaan yang menekan,” tegasnya.

Sikap PJ Rektor yang memilih mengeluarkan dosen dari grup alih-alih berdialog, dinilai menunjukkan pola kepemimpinan yang menutup ruang komunikasi dan mempersempit kebebasan akademik di UNIPO.

Hingga berita ini dipublikasikan, PJ Rektor UNIPO maupun Bendahara kampus belum memberikan tanggapan apa pun. Pesan dan panggilan yang dikirim awak media belum mendapatkan jawaban.

 

Berita Terkait

Perbedaan Keterangan Saksi Munculkan Pertanyaan Baru dalam Kasus Hilangnya Eca
DPC AKPERSI Kota Gorontalo Akhiri Status Kepengurusan Zainudin Hadjarati
PETI Desa Teratai Digerebek, Pemilik Excavator dan Operator Diamankan Polres Pohuwato
Dugaan TPPU belum terang, namun aktivitas PETI Hj. S masih terus beroprasi, penambang tradisional kabilasa mengaku dilarang beraktivitas
Diduga Beroperasi, Delapan Ekskavator Milik Haji S Digunakan dalam Aktivitas PETI di Botudulanga
Baznas dan Pemkab Pohuwato percepat penanganan bencana dan bantuan kemanusiaan
Hasil RDPU Belum Tuntas, Perusahaan malah makin menggila ; Talang Penambang Lokal diangkut ke Polres hingga HILANGNYA Data Izin di OSS Kian Jadi Sorotan
TMMD Ke-129 Pererat Kemanunggalan TNI-Rakyat Lewat Nobar Final Piala Dunia 2026

Berita Terkait

Thursday, 30 July 2026 - 20:09

Perbedaan Keterangan Saksi Munculkan Pertanyaan Baru dalam Kasus Hilangnya Eca

Thursday, 30 July 2026 - 05:10

DPC AKPERSI Kota Gorontalo Akhiri Status Kepengurusan Zainudin Hadjarati

Wednesday, 29 July 2026 - 18:43

PETI Desa Teratai Digerebek, Pemilik Excavator dan Operator Diamankan Polres Pohuwato

Monday, 27 July 2026 - 03:14

Dugaan TPPU belum terang, namun aktivitas PETI Hj. S masih terus beroprasi, penambang tradisional kabilasa mengaku dilarang beraktivitas

Sunday, 26 July 2026 - 08:59

Diduga Beroperasi, Delapan Ekskavator Milik Haji S Digunakan dalam Aktivitas PETI di Botudulanga

Berita Terbaru