Pohuwato – Jika kepolisian meminta waktu, publik justru membawa stopwatch. Pemandangan inilah yang ditunjukkan Gabungan Ormas Pohuwato Lipu Lami (GASSPOLL) dalam ultimatum terbarunya. Ditemani dentum sound system yang menggema di tengah situasi panas PETI Bulangita, Koordinator Lapangan, Yusuf Mbuinga, menyampaikan pesan sederhana namun mematikan: waktu hampir habis.
“Tujuh kali dua puluh empat jam. Kalau status hukum belum naik, kalau alat berat belum dipolice line—kita kembali dengan gelombang yang lebih besar,” ujar Yusuf sambil mengangkat stopwatch ke arah wartawan. Publik menyambut dengan sorak: bukan euforia, tetapi ketidakpercayaan yang sudah menua.
GASSPOLL menilai kehadiran excavator tanpa legalitas, plus korban jiwa di lokasi, adalah kombinasi yang tak bisa dibela oleh kata investigasi masih berjalan. Telah terjadi indikasi tindak pidana lingkungan, pertambangan ilegal, dan tentu saja, kelalaian struktural.
—
Tudingan “Tarik Ulur” Mulai Muncul
Belum adanya tindakan penyitaan alat berat memperkuat kecurigaan: ada kepentingan di selubung kabut. Di kedai kopi hingga grup WhatsApp warga, satu kalimat beredar:
> “Kenapa yang mati lebih cepat diangkut daripada alat beratnya?”
Sorakan pedas itu kini sampai ke kuping aparat.
—
Forkopimda Ikut Dipanggil ke Panggung
Yusuf juga menyeret nama para petinggi Pohuwato ke meja kewajiban moral. Ia menuntut rapat Forkopimda untuk memutuskan nasib PETI Bulangita secara terang, bukan sekadar kasak–kusuk administratif.
“Kerusakan ekologis, sumbatan sungai, potensi longsor, merkuri, konflik sosial, dan—yang paling mahal—nyawa. Masih ada yang ingin menunggu?” katanya.
Dan publik berbisik: Berapa nyawa lagi sebelum rapat itu digelar?
—
Peringatan berikutnya dilontarkan tanpa getaran di suara:
> “Kalau Forkopimda adem ayem, kami akan bawa massa ke kantor mereka. Perintah sudah masuk, Sound system mengaminkan.
—
Bulangita Masuk Zona Merah
Selain kerusakan ekologis, dampak sosial menyebar:
Jalanan penuh lumpur tambang,
Debu yang meracuni udara,
Aktivitas ngebut malam,
Pekerja luar daerah yang membanjiri desa,
Perubahan kultur mikro–masyarakat.
Pengamat sosial menyebut situasi ini: bom waktu yang sedang disetel.
—
—
Dunia medsos sudah menetapkan label:
Konsistensi diuji, Independensi dicurigai,
Keberpihakan dipotret dari kejauhan.
Jika tenggat 7×24 jam habis tanpa progres, bukan hanya aksi jilid III—Pohuwato bisa menyaksikan demo terbesar tahun ini.
—
Di Balik Ultimatum
Dapat dibaca jelas:
> Yang dipertanyakan bukan kemampuan. Yang dipertanyakan adalah kemauan.
—
Sementara Stopwatch Berjalan…
Jarum terus bergerak. Di balik layar, publik bukan lagi menunggu laporan polisi. Mereka menunggu sejarah menilai:
siapa berani,
siapa ragu,
siapa berpihak pada tambang,
siapa berpihak pada manusia dan lingkungan.
Jika waktu habis, GASSPOLL sudah bersiap. Dan kali ini, mikrofon orasi mereka tidak mengenal mode mute.
—
(Redaksi)






