Akulturasipost.com Pohuwato— Hari ini, Kamis (27/11/2025), kami mendatangi Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pohuwato untuk membahas isu yang selama ini hanya terdengar samar soal pengelolaan sampah, perubahan sistem, serta kebijakan yang diam-diam menggeser wajah lingkungan hidup Pohuwato sejak tahun 2022.
Suasananya santai, tak ada nuansa birokrasi yang sarat prosedur dan mekanisme, namun informasinya jauh dari biasa-biasa saja.
Sumitro Monoarfa, S.Hut., MP, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Pohuwato, mengungkapkan sesuatu yang jarang diberitakan: sistem pengelolaan sampah di Pohuwato sudah menggunakan metode controlled landfill, bukan lagi sistem terbuka konvensional.
Di Tempat Pembuangan Akhir, sekitar 50 tenaga pemulung bekerja setiap hari. Mereka bukan sekedar mencari nafkah. Ada perekonomiannya yang justru melonjak drastis.
“Ada yang sampai punya tiga motor dari hasil memilah sampah,” ujar Sumitro.
Fakta ini mengejutkan. Pengelolaan sampah ternyata bukan sekadar mengelola limbah ia menciptakan kelas ekonomi baru di sekitar TPA.
Namun bagian yang paling mencolok bukan di situ.
Ketika Sumitro dilantik pada tahun 2022, target PAD DLH hanya 50 juta rupiah, dan itu pun belum pernah tercapai penuh. Tapi setelah dia masuk, angka itu berubah drastis. Bahkan tidak sekadar naik, tetapi melonjak secara sistematis.
Sumber pendapatan yang sebelumnya dipandang sebelah mata mulai dioptimalkan:
Jembatan timbang (UPPKB) di Marisa diperbaiki dengan anggaran 250 juta yang memudahkan penimbangan sampah sehingga mampu menggenjot PAD Retribusi sampah dari perusahaan tambang yang diterapkan sesuai Perbup: Rp 2.800 per kg, dengan sistem ini membuat Pani Gold Project menyumbangkan sekitar 100 juta per bulan bagi PAD DLH.
Dan hingga November 2025, PAD DLH sudah mencapai 900 juta rupiah, atau 90% dari target 1 miliar.
Semua pencapaian ini terjadi di tengah situasi nasional yang tidak mudah. Pemerintah pusat sedang melakukan efisiensi anggaran besar-besaran; dampaknya dirasakan hingga kabupaten.
Namun justru di saat banyak daerah mulai mengerem laju pembangunan, Pohuwato bergerak dengan kecepatan berbeda. Dan nama Sumitro berada di pusat perubahan itu.
Sejak dua tahun terakhir, DLH Pohuwato meraih Piala Adipura dua tahun berturut-turut (2023 dan 2024) dan kini kembali masuk penilaian pada tahun 2025.
Satu pertanyaan muncul: Bagaimana mungkin daerah kecil di tengah tekanan fiskal nasional justru melesat di sektor yang paling rumit: lingkungan hidup?
Kisah inspiratif ini masih belum selesai dan akan berlanjut.
Tim Redaksi






