akulturasipost.com, Pohuwato – Satu hal yang tidak banyak diketahui masyarakat: transformasi lingkungan hidup di Pohuwato tidak berhenti. Bahkan bagian paling menarik justru baru dimulai.
Sumitro memberkan rencana jangka panjang yang sebagian besar belum diumumkan ke publik. Targetnya sederhana namun revolusioner:
Sampah dan limbah akan menjadi sumber pendapatan daerah baru.
Ia sedang merancang sistem pengelolaan limbah tinja yang dapat menggenjot PAD lebih besar. Bukan teknologi abstrak, tetapi teknologi yang sudah dipakai di banyak negara maju:
Limbah tinja bisa diubah menjadi Pupuk organik kaya nitrogen, fosfor, dan kalium, Sumber energi terbarukan yaitu Biogas, Listri dan Pemanas udara
Jika ini berhasil, maka Pohuwato akan berada tepat di depan banyak daerah lain.
Dan ingat konteksnya:
> Negara sedang melakukan efisiensi anggaran. Banyak daerah yang menurunkan program. Tapi Pohuwato justru menemukan sumber pendapatan baru—bukan dari proyek, tetapi dari limbah.
Ini membuka dua pertanyaan besar:
1. Mengapa strategi ini baru dilakukan sekarang?
2. Dan mengapa banyak daerah yang belum meniru?
Perubahan ini mengandung konsekuensi besar: Mengubah cara pemerintah memandang sampah, Mengubah ekosistem ekonomi lokal, menghapus kebiasaan lama yang selama ini dianggap normal.
Kini masyarakat mulai memahami bahwa pencapaian PAD 1 miliar bukan angka biasa. Ia adalah bukti bahwa sistem lama benar-benar dibongkar.
Jika pada tahun 2022 DLH hanya mampu menembus angka 50 juta, maka kini memutarnya menjadi tanda tanya sekaligus tanda seru:
Bagaimana satu instansi yang identik dengan sampah justru menjadi penyelamat anggaran daerah di tengah krisis efisiensi nasional?
Jawabannya mengarah pada satu kesimpulan:
> Ada strategi besar yang sedang disiapkan.
Dan episode ini belum selesai.
(Bersambung…)
(Tim Redaksi)






