Akulturasipost.com, POHUWATO — LSM LABRAK (Lembaga Aksi Bela Rakyat) kembali menunjukkan konsistensinya dalam mengawal kepentingan masyarakat. Tak sekadar dikenal sebagai organisasi aksi dan parlemen jalanan, LABRAK kini bersiap menggelar Gemblengan LABRAK (GEBRAK) ke-19 pada 25–28 September 2026 di Embung Desa Iloheluma, Kecamatan Patilanggio, Kabupaten Pohuwato.
Mengusung tema “Menata Struktur, Menguatkan Kultur, Memperluas Spektrum Perjuangan LABRAK”, GEBRAK ke-19 diarahkan sebagai arena kaderisasi untuk melahirkan generasi yang peduli terhadap persoalan rakyat, kritis membaca keadaan, berani bersikap, serta memiliki intelektualitas dalam menjalankan perjuangan.
Ketua Panitia Pelaksana GEBRAK, Mukhtar Sahari, mengatakan bahwa perjuangan tidak cukup hanya dengan keberanian turun ke jalan. Menurutnya, kader harus memahami persoalan secara mendalam, mampu membangun argumentasi dan memiliki keberanian mengambil sikap. “LABRAK tidak ingin mencetak kader yang hanya pandai berteriak. Kita ingin kader yang berani berpikir, berani bertanya, berani mengkritisi dan berani bergerak ketika kepentingan rakyat membutuhkan pembelaan,” tegas Mukhtar.
Sekretaris Panitia, Fauzil Laginda, menambahkan bahwa GEBRAK akan dikemas sebagai ruang belajar yang aktif melalui diskusi, pendidikan organisasi, berpikir kritis, kepemimpinan, advokasi masyarakat, kerja tim serta refleksi. “Persoalan rakyat tidak selalu selesai dengan teriakan. Ada yang harus dihadapi dengan keberanian, tetapi ada pula yang membutuhkan data, kajian, argumentasi dan strategi,” ujarnya.
Sementara itu, Presiden LSM LABRAK melalui Kabid Kaderisasi, Irwan Hanggu, menegaskan bahwa kaderisasi merupakan bagian penting untuk memastikan api perjuangan tidak berhenti pada satu generasi. Menurut Irwan, LABRAK membutuhkan kader yang tidak takut menghadapi kekuasaan, namun tetap mengedepankan kecerdasan dan tanggung jawab. “Berani bukan berarti sembrono. Kritis bukan berarti asal menentang. Perjuangan harus dibangun dengan keberanian, intelektualitas dan keberpihakan kepada rakyat,” tegasnya.
Irwan menambahkan, semangat perjuangan tidak boleh hanya muncul ketika aksi digelar. “Api itu harus hidup dalam pikiran, kepedulian dan tindakan setiap kader. Ketika rakyat menghadapi persoalan, kader harus mampu membaca masalah, menyusun langkah dan hadir dalam perjuangan,” katanya.
Bagi LABRAK, GEBRAK ke-19 merupakan bagian dari upaya memperkuat organisasi sekaligus memperluas ruang pengabdian kepada masyarakat. Menata struktur berarti memperkuat barisan; menguatkan kultur berarti menjaga integritas, solidaritas dan keberanian; sedangkan memperluas spektrum perjuangan berarti memastikan LABRAK terus hadir di tengah berbagai persoalan rakyat.
Dari Embung Desa Iloheluma, LABRAK kembali menyalakan api kaderisasi. Sebab perjuangan melawan ketidakadilan bukan pekerjaan musiman. Generasi boleh berganti, tetapi keberpihakan kepada rakyat harus tetap menyala. GEBRAK ke-19 diharapkan melahirkan kader yang siap berpikir ketika rakyat membutuhkan solusi, berani bersuara ketika ketidakadilan terjadi, dan bergerak ketika masyarakat membutuhkan pembelaan.
LABRAK TERUS BERGERAK!
Kritis itu keren. Peduli itu keberanian. Bergerak itu solusi.
Bersama rakyat, untuk perubahan.






