Akulturasipost.com, Randangan — Senin, 8 Desember 2025, Pasar Randangan menjadi saksi bagaimana panas matahari yang membakar tidak mampu menyamakan semangat kolaborasi antara Polsek Randangan dan LSM LABRAK. Baunya menyengat, keringat mengalir deras, tetapi langkah-langkah untuk lawan tidak pernah goyah. Justru di bawah cuaca paling kejam, kemanusiaan menemukan wujud paling kuatnya.
Aksi solidaritas untuk membantu korban bencana Aceh itu berubah menjadi gambaran utuh tentang sinergi, kepercayaan, dan kerja bersama yang tidak dibuat-buat. Masyarakat berbondong-bondong, pedagang pasar tersenyum sambil menyerahkan donasi, dan anak-anak kecil menyalami para relawan seolah-olah mereka adalah pahlawan harian yang baru saja turun dari medan bakti.
Di tengah keramaian-pikuk itu, Kanit Reskrim Polsek Randangan, Abdulrahman Ibrahim, tidak hanya berdiri sebagai aparat penegak hukum. Ia bergerak bersama para relawan, mengatur alur donasi, menjaga keamanan, sekaligus menjadi bukti bahwa polisi hadir tidak hanya dalam penindakan, tetapi juga dalam penyembuhan luka sosial.
“Hari ini kita bukan polisi, bukan aktivis, bukan masyarakat biasa. Kita satu tim—Randangan untuk Aceh. Kolaborasi seperti ini membuktikan bahwa kemanusiaan lebih kuat daripada perbedaan peran,” ujar Abdulrahman sambil menyeka keringat yang mengalir dari pelipisnya.
Di sisi lain, Sahrun Dolongseda, kader LSM LABRAK yang terdengar nyaris habis karena berorasi sejak pagi, juga menegaskan bahwa kekuatan aksi ini bukan pada jumlah donasi, melainkan pada kekuatan kebersamaan.
“Kami tidak mungkin mampu bekerja sendiri. Kehadiran Polsek Randangan, masyarakat pasar, bahkan para pengunjung luar daerah membuat aksi ini hidup. Kemanusiaan itu bukan tentang siapa yang paling banyak bekerja—tetapi tentang bekerja bersama, saling menopang, saling melengkapi.”
Pada puncak aksi, ketika terik mencapai titik paling menyakitkan, justru di situlah terlihat bagaimana kolaborasi mengalahkan kelelahan. Para pedagang menyediakan minuman dingin untuk para relawan tanpa diminta. Polisi membantu mengangkat kotak donasi yang mulai berat. Relawan LABRAK saling memijit bahu satu sama lain sebelum kembali berdiri dan melanjutkan tugas.
Ketika matahari akhirnya mulai turun, banyak yang kelelahan, wajah memerah, kulit makin gelap, kaki pegal, tetapi tak satu pun merasakan sia-sia. Ada kebanggaan, ada lega, ada rasa bahwa Randangan hari itu tidak hanya mengirim bantuan—tetapi juga mengirim pesan:
Bahwa ketika masyarakat, aktivis, dan aparat bersatu, panas mentari bukanlah ancaman—ia hanya menjadi saksi betapa hebatnya kolaborasi kemanusiaan. (Tim Redaksi)






