akulturasipost, Pohuwato — Di sebuah ruangan sederhana Panti Asuhan Sumayya, Marisa, puluhan anak yatim duduk bersila dengan pakaian terbaik mereka. Mereka datang untuk berdoa bersama. Tetapi tanpa dugaan mereka, hari itu menjadi hari yang mengubah hati banyak orang—hari ketika seorang pemimpin turun bukan sebagai pejabat, bukan sebagai politisi, tetapi sebagai manusia.
Sosok itu adalah Mohamad Afif, Ketua DPD PAN Pohuwato.
Ia hadir dengan langkah pelan, duduk bersama anak-anak tanpa jarak, tanpa protokol, tanpa sekat. Yang ia bawa bukan program besar, bukan anggaran negara, bukan wacana politik.
Yang ia bawa adalah ketulusan yang sulit dijumpai hari ini.
“Saya yang tanggung… kalian tidak sendiri.”
Momen itu terjadi begitu cepat namun meninggalkan bekas panjang pada siapa pun yang mendengarnya. Afif berdiri, menatap anak-anak yatim yang menunggu dengan diam, lalu menyampaikan kabar yang membuat suasana berubah haru.
“Kalau ada anak yatim yang sudah aqil baligh tapi belum dikhitan… biar saya yang tanggung semua. Jangan malu. Jangan takut. Kalian tidak sendiri.”
Hening sesaat.
Beberapa anak tampak menunduk,
Pengurus panti asuhan saling berpandangan, mereka sadar bahwa di tengah kesulitan yang mereka hadapi dalam mengelola panti, masih ada yang memberi perhatian pada kebutuhan penghuni panti.
Kata-kata itu terdengar sederhana, tapi bagi anak-anak yang hidup tanpa orang tua, kalimat itu seperti pelukan tak terlihat. Pelukan yang selama ini tidak mereka punya.
Di antara kerumunan, seorang anak laki-laki tampak ragu mengangkat tangan. Suaranya kecil, hampir tenggelam dalam keheningan.
“Om… apa betul… semua gratis?”
Suatu pertanyaan yang lahir dari hati yang terbiasa menunggu, terbiasa kekurangan, terbiasa bertanya-tanya apakah ia pantas menerima bantuan.
Afif mendekat, berjongkok agar sejajar dengan tinggi si anak, lalu berkata:
“Iya. Kamu tidak perlu berpikir apa pun. Tugasmu hanya tumbuh jadi anak yang baik. Biar aku yang urus tetap.”
Kalimat itu membuat dua pengurus panti asuhan langsung menutup wajah mereka.
Di ruangan itu, batas antara pejabat dan masyarakat hilang begitu saja.
Doa anak yatim yang menggemparkan hati
Saat doa dimulai, tangan kecil diangkat ke langit, dan suara mereka bergetar:
“Ya Allah… jagalah Pohuwato… jagalah kami… dan jagalah orang-orang yang peduli pada kami…”
Di kursinya, Afif diam. Tangannya terkepal, seolah menahan haru.
Pada saat itu, ia bukan sebagai ketua partai, bukan sebagai anggota DPRD, ia hanya seorang manusia yang sedang menerima doa tulus dari anak-anak yang kehidupannya dipenuhi keheningan.
Doa itu menjadi saksi bahwa kepedulian tidak membutuhkan panggung, tidak membutuhkan kamera, tidak membutuhkan publikasi yang mewah.
Instruksi DPP PAN hanya meminta doa bersama.
Namun Afif membawa instruksi itu jauh lebih dalam—ke dalam ruang kemanusiaan yang jarang disentuh.
Tidak ada sorotan cahaya, tidak ada acara besar.
Yang ada hanya diruangan sederhana, anak-anak dengan mata penuh harap, dan seorang pemimpin yang memilih untuk hadir sebagai penjaga kecil harapan mereka.
“Kami tidak ingin menjadi pihak yang hanya berbicara. Kami ingin hadir dan menyentuh hati,” kata Afif sebelum meninggalkan panti asuhan.
Dan pada hari itu, ia berhasil.
Ia tidak hanya menyentuh hati—ia membuka kembali kepercayaan bahwa pemimpin politik masih bisa memiliki sisi manusia yang hangat, jujur, dan tulus. (tim redaksi)






