Opini ; S. Amu
Akulturasipost, Pohuwato— Hujan deras yang Mengguyur sebagian wilayah Pohuwato pada 30/12/2025 dari pukul 13.00 wita hingga menjelang malam membuat beberapa desa seperti Desa Hulawa Kecamatan Buntulia ,Desa Bulangita Kecamatan Marisa serta status waspada di Kecamatan Taluditi dikarenakan volume air di sungai mulai naik.
Tak cukup dengan itu, Deretan insiden kematian di PETI seolah menjadi “PR” Panjang bagi Pemerintah daerah Kabupaten Pohuwato.Keberadaan industri Pertambangan pun di duga menjadi penyumbang rentetan bencana alam di lingkungan ini.
Seolah menjadi penyakit stadium akhir yang hanya bisa di beri obat penenang rasa sakit tanpa menemukan obat penyembuh. Sebagian pengamat Lingkungan bahkan mengklaim narasi yang cukup satir “Pohuwato akan hilang dari Peta”.
Ungkapan sinis ini sejenak terlihat hyperbola namun nyata rasanya, jika Pemerintah tidak segera memberikan regulasi yang tanggap terkait pertambangan masyarakat yang terlilit cacat izin karena birokrasi administratif yang rumit dan APH tidak tegas dan merata menegakkan hukum dan Aturan karena di isukan beberapa oknum menerima Upeti dari PETI. Maka bisa jadi kita sedang mempersiapkan “Peti Mati” Untuk daerah kita sendiri.
Menyalahkan dan mencari siapa yang salah di keadaan bencana seperti ini rasanya tidak lagi menjadi hal yang bijak,bergerak mencari solusi tanpa haus validasi yang penuh topeng seharusnya menjadi fokus dari segala elemen.
Siapa lagi yang menjaga kampung halaman jika bukan kita. Siapa pula yang memanen getir dampak alam dan korban di panasnya lokasi pertambangan kalau bukan kita.
Redaktur : S.AMU
Ilustrator : Moh. R. Samoe






