Akulturasipost, Gorontalo — Di tengah krisis pertanian yang kian memburuk, absennya pengurus KTNA Kabupaten Pohuwato dalam Rapat Koordinasi PENAS Petani dan Nelayan Provinsi Gorontalo menjadi sorotan tajam. Ketika petani menghadapi empat kali gagal tanam dan tiga kali gagal panen, organisasi yang mengatasnamakan petani justru tidak hadir di forum penyelamatan.
Ketidakhadiran ini memicu pertanyaan serius:
Masihkah KTNA Pohuwato benar-benar berdiri untuk petani, atau justru menjauh ketika petani paling membutuhkan pembelaan?Organisasi Ada, Tapi Suara Petani Hilang
Salah satu Panitia pelaksana PENAS yang berasal dari Kabupaten Gorontalo mengemukakan bahwa rupanya ada sedikit kekecewaan dari H. Mohammad Yadi Sofyan Noor selaku Ketua KTNA Pusat saat menghadiri PENAS kali ini yaitu ketidakhadiran beberapa wakil dari unsur KTNA di wilayah Gorontalo
“Pak Sofyan pasca rapat PENAS kemaren itu saya liat setelah Ishoma sudah ga balik lagi ke ruang rapat, keliatan dari raut wajahnya ia kecewa banyak yang ngga ikut entah karena alasan apa” Ungkapnya.
Rakor PENAS bukan sekadar agenda rutin. Ini adalah forum strategis tingkat provinsi yang menentukan arah kebijakan, alokasi program, dan intervensi lintas sektor. Ketika KTNA Pohuwato tidak hadir, maka:
Tidak ada tekanan resmi terkait krisis gagal panen
Tidak ada tuntutan tegas soal sedimentasi
Tidak ada pembelaan langsung terhadap kerugian petani
Tidak ada suara Pohuwato dalam pengambilan kebijakan
Dalam kondisi seperti ini, absennya KTNA Pohuwato bukan lagi sekadar soal teknis, tetapi mencerminkan krisis representasi petani.
Di Mana KTNA Saat Sawah Mati?
Petani Pohuwato tidak sedang menghadapi masalah biasa. Mereka berhadapan dengan:
Irigasi tersumbat lumpur
Air tercemar sedimentasi
Produktivitas lahan turun drastis
Modal tanam habis akibat gagal berulang
Namun di saat jeritan petani makin keras, KTNA Pohuwato justru tidak terlihat di meja kebijakan.
Publik kini mempertanyakan:
Apakah KTNA Pohuwato masih menjadi organisasi perjuangan, atau telah berubah menjadi simbol tanpa perlawanan?
Diam di Forum, Petani Menanggung Derita
Dalam politik kebijakan, ketidakhadiran adalah sikap. Dan dalam konteks krisis, diam bisa dimaknai sebagai pembiaran.
Ketika KTNA Pohuwato tidak hadir:
Petani kehilangan corong resmi
Masalah hulu kehilangan tekanan
Kepentingan petani kehilangan prioritas
Ini bukan lagi soal etika organisasi, ini soal tanggung jawab moral terhadap ribuan petani.
KTNA Pohuwato Wajib Menjawab
Sebagai organisasi yang mengklaim mewakili petani dan nelayan, KTNA Pohuwato kini berada di bawah sorotan publik. Pertanyaan yang tak bisa dihindari:
Mengapa tidak hadir di forum sepenting ini?
Siapa yang memperjuangkan Pohuwato di tingkat provinsi?
Apakah krisis petani masih menjadi prioritas KTNA Pohuwato?
Jika tidak ada klarifikasi dan langkah nyata, maka absennya ini berpotensi memperkuat anggapan bahwa KTNA Pohuwato gagal menjalankan fungsi perjuangannya.
Bukan Sekadar Absen, Ini Soal Kepemimpinan
Krisis pertanian menuntut kepemimpinan, keberanian, dan konsistensi. Ketika organisasi petani justru tidak hadir, maka yang dipertaruhkan bukan hanya citra lembaga, tetapi nasib petani Pohuwato itu sendiri.
Tegasnya, Petani tidak butuh organisasi yang hanya ada di nama. Mereka butuh organisasi yang hadir di medan perjuangan. Dan pada Rakor PENAS ini, KTNA Pohuwato tidak ada di medan itu.
Hingga berita ini diterbitkan, tim redaksi masih menunggu klarifikasi dari pengurus KTNA Pohuwato.
Tim redaksi






