“Pohon Cinta Terancam Mati, Kapolda Didesak Buktikan Ucapan””

Saturday, 7 February 2026 - 02:12

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Akultirasipost, Pohuwato – Laut Pohon Cinta bukan sekadar bentang air. Ia adalah wajah Pohuwato di mata pengunjung. Ia adalah ruang rekreasi, kebanggaan lokal, sekaligus denyut ekonomi bagi warga pesisir. Namun dalam beberapa waktu terakhir, warga mulai menyaksikan perubahan yang menakutkan: air yang semakin keruh, warna laut yang tidak lagi mencerminkan kejernihan alami.
Sedimentasi yang mengalir dari hulu diduga kuat membawa luka tambang ke wilayah wisata. Apa yang terjadi di Bulangita kini terasa sampai ke pesisir. Laut yang seharusnya menjadi etalase keindahan berubah menjadi cermin kerusakan.
Bagi wisata, persepsi adalah segalanya.
Pengunjung datang untuk melihat laut yang hidup, jernih, dan alami. Ketika air berubah keruh dan tampak tercemar, daya tarik itu runtuh perlahan. Warga mulai khawatir: jika kondisi ini berlanjut, Pohon Cinta akan ditinggalkan bukan karena tidak indah — tetapi karena terlihat terluka.
Dan ketika wisata mundur, ekonomi ikut jatuh.
Pedagang kecil di pesisir bergantung pada arus pengunjung. Nelayan bergantung pada ekosistem laut yang sehat. Penginapan, warung makan, jasa transportasi lokal — semuanya berdiri di atas satu fondasi yang sama: laut yang menarik orang datang.
Jika fondasi itu retak, efek domino tidak bisa dihindari.
Kerusakan di hulu tidak berhenti sebagai masalah lingkungan. Ia merambat menjadi ancaman ekonomi. Setiap sedimentasi yang mengalir ke laut adalah risiko langsung terhadap penghidupan masyarakat.
Warga mulai berbicara tentang ketakutan yang lebih besar dari sekadar tambang:
ketakutan bahwa mereka akan kehilangan masa depan ekonomi karena luka ekologis yang terus dibiarkan.
Kasus PETI Bulangita kini tidak lagi berdiri sebagai isu lokal. Ia telah menjalar ke jantung identitas wisata Pohuwato. Dan jika Pohon Cinta kehilangan pesonanya, yang hilang bukan hanya pemandangan —
tetapi sumber kehidupan bagi banyak keluarga.
Pertanyaannya kini bukan lagi apakah kerusakan itu nyata.
Pertanyaannya adalah:
berapa besar kerusakan yang harus terjadi sebelum semuanya terlambat?

Berita Terkait

SUMPAH PEMUDA dalam seremoni,jeritan rakyat diluar pagar Konsesi
Kebaya Kartini dan Ragam Profesi Warnai Sumpah Pemuda di SDN 05 Marisa, Kepala Sekolah Tanamkan Karakter Sejak Dini
Dandim 1313/Pohuwato Hadiri Upacara Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 Tahun 2026 yang Dirangkaikan dengan Apel Korpri
‎Sumpah pemuda di ceremony,Sampah di Beranda,LSM LABRAK :”miris! Tumpukan sampah bahkan berserakan di beranda kantor Bupati!”
Mayjen Anggit Exton Yustiawan Mulai Kepemimpinan di Kodam XIII/Merdeka
Wali Kota Tual Nyanyikan Lagu Rohani di Sidang MPL 2026: Ain Ni Ain, Bukti Nyata Toleransi Kita
Operasi Patuh Otanaha 2026 Dimulai, Satlantas Polres Pohuwato Tindak 4 Pengendara
Prabowo Akui Banyak Kekurangan MBG, 13 Orang Jadi Tersangka dan 353 Dipecat

Berita Terkait

Wednesday, 28 October 2026 - 03:21

SUMPAH PEMUDA dalam seremoni,jeritan rakyat diluar pagar Konsesi

Wednesday, 28 October 2026 - 03:02

Kebaya Kartini dan Ragam Profesi Warnai Sumpah Pemuda di SDN 05 Marisa, Kepala Sekolah Tanamkan Karakter Sejak Dini

Wednesday, 28 October 2026 - 02:40

Dandim 1313/Pohuwato Hadiri Upacara Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 Tahun 2026 yang Dirangkaikan dengan Apel Korpri

Wednesday, 28 October 2026 - 01:21

‎Sumpah pemuda di ceremony,Sampah di Beranda,LSM LABRAK :”miris! Tumpukan sampah bahkan berserakan di beranda kantor Bupati!”

Tuesday, 27 October 2026 - 15:00

Mayjen Anggit Exton Yustiawan Mulai Kepemimpinan di Kodam XIII/Merdeka

Berita Terbaru