“Ketika ‘Aktivis’ Bicara Tanpa Pijakan: Realitas Pahit Penambang Pohuwato”

Friday, 27 February 2026 - 14:24

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Opini ; Muhammad Rusli Laki

Aktivis Pemuda Pohuwato

Pernyataan yang mengatasnamakan diri sebagai aktivis belakangan ini justru terasa menggelitik. Bukan karena tajam, tetapi karena dangkal. Cara pandang yang dipertontonkan menunjukkan minimnya pemahaman terhadap dinamika yang benar-benar terjadi di Pohuwato. Seolah berbicara lantang, namun tanpa pijakan pengetahuan yang utuh.

Persoalan di daerah ini bukan sekadar opini liar yang bisa dibentuk sesuka hati. Kita sedang berhadapan dengan kisruh serius, mulai dari putusan Mahkamah Agung hingga belum tuntasnya alokasi Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) dan Izin Pertambangan Rakyat (IPR). Ketidakjelasan ini melahirkan ketimpangan—kompetisi ruang hidup yang tidak adil bagi masyarakat lokal.

Di satu sisi, perusahaan tampak seperti entitas tunggal yang mendapat karpet merah untuk mengelola sumber daya alam Pohuwato. Di sisi lain, penambang lokal justru dihadapkan pada tekanan, bahkan tidak sedikit yang mengalami intimidasi dan kriminalisasi. Ini bukan sekadar konflik kepentingan, tetapi menyangkut hak hidup masyarakat di tanahnya sendiri.

Perlu dipahami, denyut ekonomi Pohuwato tidak bisa dilepaskan dari peran para penambang rakyat. Mereka adalah lokomotif ekonomi daerah. Ketika perjuangan mereka dilemahkan, sama saja dengan menembak jantung kehidupan Pohuwato. Dampaknya tidak berhenti pada penambang saja, tetapi merembet ke pedagang kecil, tukang ojek, hingga seluruh lapisan ekonomi bawah.

Ironisnya, pihak-pihak yang tampil membela perusahaan justru bukan bagian dari realitas lokal. Mereka tidak tumbuh dari tanah ini, tidak memahami konteks sosialnya, dan tidak memiliki kedalaman bacaan atas persoalan yang ada. Wajar jika kemudian muncul kecurigaan bahwa mereka sekadar menjadi corong kepentingan tertentu—membangun narasi tandingan untuk meredam perjuangan rakyat.

Jika memang merasa paling tahu, maka ruang diskusi terbuka selalu ada. Mari duduk bersama, adu gagasan, bukan sekadar menggiring opini. Sebab dalam situasi seperti ini, yang dibutuhkan bukan suara paling keras, tetapi pemikiran paling jernih.

Berita Terkait

BAZNAS Pohuwato Apresiasi JNE Tunaikan Zakat Maal, Perusahaan Pengelola SDA Diimbau Ikut Berkontribusi
SUMPAH PEMUDA dalam seremoni,jeritan rakyat diluar pagar Konsesi
Kebaya Kartini dan Ragam Profesi Warnai Sumpah Pemuda di SDN 05 Marisa, Kepala Sekolah Tanamkan Karakter Sejak Dini
Dandim 1313/Pohuwato Hadiri Upacara Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 Tahun 2026 yang Dirangkaikan dengan Apel Korpri
‎Sumpah pemuda di ceremony,Sampah di Beranda,LSM LABRAK :”miris! Tumpukan sampah bahkan berserakan di beranda kantor Bupati!”
Mayjen Anggit Exton Yustiawan Mulai Kepemimpinan di Kodam XIII/Merdeka
Wali Kota Tual Nyanyikan Lagu Rohani di Sidang MPL 2026: Ain Ni Ain, Bukti Nyata Toleransi Kita
Operasi Patuh Otanaha 2026 Dimulai, Satlantas Polres Pohuwato Tindak 4 Pengendara

Berita Terkait

Wednesday, 28 October 2026 - 11:32

BAZNAS Pohuwato Apresiasi JNE Tunaikan Zakat Maal, Perusahaan Pengelola SDA Diimbau Ikut Berkontribusi

Wednesday, 28 October 2026 - 03:21

SUMPAH PEMUDA dalam seremoni,jeritan rakyat diluar pagar Konsesi

Wednesday, 28 October 2026 - 03:02

Kebaya Kartini dan Ragam Profesi Warnai Sumpah Pemuda di SDN 05 Marisa, Kepala Sekolah Tanamkan Karakter Sejak Dini

Wednesday, 28 October 2026 - 02:40

Dandim 1313/Pohuwato Hadiri Upacara Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 Tahun 2026 yang Dirangkaikan dengan Apel Korpri

Wednesday, 28 October 2026 - 01:21

‎Sumpah pemuda di ceremony,Sampah di Beranda,LSM LABRAK :”miris! Tumpukan sampah bahkan berserakan di beranda kantor Bupati!”

Berita Terbaru