SPX Disorot: Paket Tak Diantar, Status Diubah Sepihak, Konsumen Dirugikan

Sunday, 5 April 2026 - 06:34

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

   Akulturasipost, Pohuwato—Layanan pengiriman Shopee Express (SPX) kembali menuai sorotan publik. Sepanjang akhir 2024 hingga 2025, keluhan konsumen ramai bermunculan di media sosial, menyoroti berbagai persoalan serius dalam proses distribusi barang, mulai dari paket yang dikembalikan tanpa alasan jelas hingga dugaan kelalaian kurir di lapangan.(05/04/2026) 

Sejumlah laporan mengungkap paket kerap tertahan berhari-hari di gudang Distribution Center (DC) tanpa kejelasan status. Kondisi ini memicu kecurigaan adanya persoalan dalam manajemen distribusi internal, yang berpotensi merugikan konsumen maupun pelaku usaha.

Tak hanya itu, dugaan pelanggaran prosedur oleh kurir juga mencuat. Beberapa konsumen mengaku diminta mengambil sendiri paket mereka di titik tertentu, alih-alih diantar ke alamat tujuan. Alasan yang diberikan pun beragam, mulai dari paket tercecer hingga keterbatasan distribusi, yang dinilai tidak sesuai dengan standar layanan pengiriman.

Dampak persoalan ini turut dirasakan para penjual di platform Shopee. Sejumlah seller mengeluhkan keterlambatan pickup oleh kurir, bahkan ada paket yang tidak dijemput sama sekali. Ironisnya, sistem justru memberikan penalti kepada toko karena dianggap terlambat mengirimkan barang.

Sorotan terhadap SPX juga sempat melibatkan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), yang pernah menyelidiki dugaan praktik monopoli jasa pengiriman oleh platform Shopee. Praktik tersebut dinilai berpotensi membatasi pilihan kurir dan berdampak pada menurunnya kualitas layanan.

Keluhan serupa juga terjadi di daerah. Warga Kabupaten Pohuwato, Gorontalo, mengaku mengalami langsung carut-marut layanan SPX. Paket yang seharusnya diantar ke rumah justru berujung dibatalkan dengan alasan tidak diambil.

Salah satu warga Pohuwato Timur, IIn, menuturkan paketnya telah tiba di Marisa sejak 30 Maret 2026. Namun hingga 2 April, tidak ada upaya pengantaran. Ia justru diminta menjemput paket di lokasi yang jauh dari alamatnya.

“Pesanan sudah sampai dari tanggal 30 di Marisa, tapi bukan diantar. Tanggal 2 malah disuruh jemput di Taman Paguat,” ujarnya.

Kejanggalan berlanjut ketika status paket di aplikasi berubah-ubah. Pada 4 April, paket sempat tercatat dalam proses pengiriman. Namun pada pukul 17.30 WITA, statusnya mendadak dibatalkan.

“Ada notifikasi dari kurir, tapi isinya bukan pemberitahuan pengantaran. Malah disuruh jemput di Pantai Pohon Cinta,” katanya.

Ia menduga praktik retur yang terjadi bukan disebabkan kelalaian pembeli, melainkan akibat kurir yang tidak menjalankan kewajiban pengantaran. Alasan “tidak direspons” yang tercantum dalam sistem dinilai tidak mencerminkan kondisi sebenarnya di lapangan.

Fenomena ini memunculkan pertanyaan serius terkait standar operasional SPX. Jika praktik semacam ini terus terjadi tanpa pengawasan dan perbaikan, maka potensi kerugian konsumen akan semakin besar, sementara mekanisme perlindungan dinilai belum memadai.

Hingga berita ini diturunkan, pihak SPX belum memberikan tanggapan resmi. Redaksi masih membuka ruang hak jawab untuk klarifikasi lebih lanjut.(Tim Redaksi) 

Berita Terkait

Perbedaan Keterangan Saksi Munculkan Pertanyaan Baru dalam Kasus Hilangnya Eca
DPC AKPERSI Kota Gorontalo Akhiri Status Kepengurusan Zainudin Hadjarati
PETI Desa Teratai Digerebek, Pemilik Excavator dan Operator Diamankan Polres Pohuwato
Dugaan TPPU belum terang, namun aktivitas PETI Hj. S masih terus beroprasi, penambang tradisional kabilasa mengaku dilarang beraktivitas
Diduga Beroperasi, Delapan Ekskavator Milik Haji S Digunakan dalam Aktivitas PETI di Botudulanga
Baznas dan Pemkab Pohuwato percepat penanganan bencana dan bantuan kemanusiaan
Hasil RDPU Belum Tuntas, Perusahaan malah makin menggila ; Talang Penambang Lokal diangkut ke Polres hingga HILANGNYA Data Izin di OSS Kian Jadi Sorotan
TMMD Ke-129 Pererat Kemanunggalan TNI-Rakyat Lewat Nobar Final Piala Dunia 2026

Berita Terkait

Thursday, 30 July 2026 - 20:09

Perbedaan Keterangan Saksi Munculkan Pertanyaan Baru dalam Kasus Hilangnya Eca

Thursday, 30 July 2026 - 05:10

DPC AKPERSI Kota Gorontalo Akhiri Status Kepengurusan Zainudin Hadjarati

Wednesday, 29 July 2026 - 18:43

PETI Desa Teratai Digerebek, Pemilik Excavator dan Operator Diamankan Polres Pohuwato

Monday, 27 July 2026 - 03:14

Dugaan TPPU belum terang, namun aktivitas PETI Hj. S masih terus beroprasi, penambang tradisional kabilasa mengaku dilarang beraktivitas

Sunday, 26 July 2026 - 08:59

Diduga Beroperasi, Delapan Ekskavator Milik Haji S Digunakan dalam Aktivitas PETI di Botudulanga

Berita Terbaru