“Pantang Bernegosiasi dengan Penjahat” Sebuah Tamparan Keras untuk Harga Diri Penambang Pohuwato.

Thursday, 14 May 2026 - 08:22

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Riefqy Athaullah — Presiden LSM LABRAK

Saya percaya… ada kalimat yang tidak akan pernah hilang dari ingatan rakyat kecil Pohuwato.
Kalimat itu bukan putusan pengadilan.
Bukan pidato pejabat negara.
Bukan pula suara rakyat yang marah.
Tetapi sebuah ucapan dingin yang terlontar di tengah kerumunan rakyat kecil yang sedang menangis mempertahankan hidupnya.

Di lokasi pertambangan rakyat tradisional, terjadi dialog sengit antara Oknum Petinggi Perusahaan PT MERDEKA COOPER GOLD yang hendak menggusur Kem Kem penambang kecil dengan masyarakat penambang kecil tersebut, terlontar kalimat “Saya Pantang Bernegosiasi Dengan Penjahat”

Entah bagaimana kalimat itu bisa begitu ringan diucapkan seorang mantan aparat di depan orang-orang miskin yang hidupnya hanya bergantung pada talang kecil, ijuk, dan karpet luluh di aliran sungai.
Tetapi bagi rakyat Pohuwato… kalimat itu terasa seperti palu yang menghantam dada mereka berkali-kali.
Karena yang disebut “penjahat” hari itu bukan bandar besar.
Bukan koruptor.
Bukan pencuri uang negara.
Yang disebut penjahat adalah rakyat kecil.
Ayah-ayah sederhana yang setiap pagi berangkat dengan harapan kecil agar ada serpihan emas tersangkut untuk membeli beras.
Orang-orang tua yang tubuhnya sudah lemah tetapi masih turun ke sungai karena jika mereka berhenti bekerja, anak-anak mereka mungkin tidak makan malam.
Mereka bukan orang kaya.
Mereka tidak punya kekuasaan.
Mereka bahkan mungkin tidak memahami pasal-pasal hukum yang rumit.
Mereka hanya ingin hidup.
Tetapi hari itu, di tanah kelahiran mereka sendiri, mereka dipanggil “penjahat”.
Dan sejak saat itu… banyak hati rakyat yang benar-benar hancur.
Yang lebih menyakitkan lagi, rakyat mulai menyaksikan betapa besar dan kuatnya kekuasaan korporasi di tanah Pohuwato.
Satu per satu orang-orang yang mencoba memperjuangkan rakyat kecil mulai merasakan tekanan.
Anggota DPRD mulai berbicara tentang tekanan besar perusahaan.
Wartawan yang bersuara mulai dipandang tidak nyaman.
Aktivis terus membayangkan dan menekan.
Bahkan pemerintah daerah sendiri terlihat seperti kehilangan daya menghadapi kekuatan perusahaan.
Betapa menyakitkannya melihat kenyataan itu.
Sampai di titik di mana rakyat mulai bertanya dalam hati:
“Kalau wakil rakyat saja tidak berdaya… lalu rakyat kecil harus mengadu kepada siapa?”
Berita tentang adanya tekanan besar dalam konflik tambang ini bukan lagi sekedar isu kosong. Bahkan Wakil Ketua DPRD Pohuwato secara terbuka mengakui kuatnya tekanan yang dihadapi dalam permasalahan pertambangan rakyat.
Dan rakyat menyaksikan semuanya.
Rakyat melihat bagaimana negosiasi demi negosiasi terasa berat.
Rakyat melihat bagaimana suara rakyat kecil seperti kalah sebelum didengar.
Rakyat melihat bagaimana orang-orang yang membela masyarakat mulai terkena dampak kriminalisasi.
Lalu di tengah semua luka itu… rakyat kembali mendengar kalimat yang ekstrim ” PANTANG BERNEGOSIASI DENGAN PENJAHAT” 
tahukah kalian betapa sakitnya ucapan itu bagi seorang ibu di kampung?
Bayangkan seorang anak yang mendengar ayahnya disebut penjahat hanya karena mencari makan dari sungai yang sudah mereka kenal sejak puluhan tahun yang lalu.
Bayangkan seorang istri menunggu suaminya pulang dengan tangan kosong sambil mendengar suaminya diperlakukan seperti kriminal di tanah sendiri.
Dan membayangkan betapa hancurnya hati rakyat ketika mereka merasa semua pintu tertutup: perusahaan terlalu kuat, pemerintah terlihat lemah, wakil rakyat mengaku tertekan, dan rakyat kecil hanya bisa menangis diam-diam.
Inilah luka terbesar Pohuwato hari ini.
Bukan sekadar soal tambang.
Bukan sekadar soal izin.
Tetapi tentang rakyat kecil yang mulai merasa bahwa di negerinya sendiri mereka tidak lagi mempunyai tempat untuk berdiri dengan terhormat.
Padahal tanah Gorontalo adalah tanah perjuangan. Tanah yang melahirkan keberanian Nani Wartabone melawan ketidakadilan. Tanah yang dahulu kala mengajarkan bahwa harga diri rakyat tidak boleh diinjak oleh siapa pun.
Karena itu hari ini saya ingin berkata kepada seluruh rakyat Pohuwato:
“Jangan biarkan saudara-saudara kita menangis sendirian.
Karena ketika orang miskin mulai dipanggil penjahat hanya karena mempertahankan hidupnya… maka sesungguhnya yang mati perlahan bukan hanya mata pencaharian rakyat.”

Kondisi ini menampar hati nurani kita semua sebagai manusia. #

Berita Terkait

Hewan Kurban di Bone Bolango Tembus 1.155 Ekor, Kabupaten Dapat Bantuan dari Presiden Prabowo
Ambon Kota Musik: Harmoni Timur Indonesia yang Mendunia
BPK RI Kembali Ganjar Pohuwato Opini WTP, Prestasi Berlanjut Sejak 2013
Polisi Amankan Excavator dan Sejumlah Peralatan Tambang Ilegal di Bulangita
“SPAN Kritik Cara Pandang Kadis LH: Jangan Asal Bicara PETI Kalau Tak Pahami Realitas Rakyat”
Pani Gold Mine Tegaskan Operasi Sesuai Regulasi, Pemkab Pohuwato Siapkan Jalur Alternatif untuk Penambang
Bupati Pohuwato Tunjuk Muslimin Nento Jadi Plt Kadis Sosial, Gantikan Zulkifli Umar
Gila! Penggusuran Kem Masyarakat Diduga dilakukan saat izin tambang Belum Terbit di OSS
Berita ini 106 kali dibaca

Berita Terkait

Tuesday, 26 May 2026 - 05:56

Hewan Kurban di Bone Bolango Tembus 1.155 Ekor, Kabupaten Dapat Bantuan dari Presiden Prabowo

Tuesday, 26 May 2026 - 05:24

Ambon Kota Musik: Harmoni Timur Indonesia yang Mendunia

Monday, 25 May 2026 - 09:43

BPK RI Kembali Ganjar Pohuwato Opini WTP, Prestasi Berlanjut Sejak 2013

Sunday, 24 May 2026 - 12:41

Polisi Amankan Excavator dan Sejumlah Peralatan Tambang Ilegal di Bulangita

Saturday, 23 May 2026 - 10:26

“SPAN Kritik Cara Pandang Kadis LH: Jangan Asal Bicara PETI Kalau Tak Pahami Realitas Rakyat”

Berita Terbaru

Kolase Kota Ambon.Dok Istimewa

Advetorial

Ambon Kota Musik: Harmoni Timur Indonesia yang Mendunia

Tuesday, 26 May 2026 - 05:24