Akulturasipost,POHUWATO — Insiden berdarah di kawasan Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) Tomula, Kabupaten Pohuwato, pada Rabu, 2 September 2026, mulai membuka satu per satu pertanyaan besar tentang siapa sebenarnya yang berada di balik aktivitas pertambangan ilegal tersebut.
Tiga korban disebut terdampak dalam insiden yang melibatkan alat berat di lokasi PETI Tomula. Namun hingga kini, pihak kepolisian belum memberikan penjelasan resmi dan menyeluruh mengenai siapa pelaku usaha, siapa pemilik alat berat, siapa pemilik atau penguasa lokasi, serta siapa yang diduga menjadi pengendali aktivitas PETI tersebut.
Di tengah belum adanya keterangan resmi itu, informasi dari lapangan justru mengarah pada dugaan adanya keterlibatan oknum aparat.
Seorang sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan kepada Akulturasipost menyebut, aktivitas PETI Tomula diduga tidak berjalan tanpa kendali. Bahkan, sumber tersebut secara spesifik menyebut seorang anggota polisi yang bertugas di Polsek Lemito berinisial FK sebagai pihak yang diduga berperan dalam memasukkan dan mengendalikan alat berat di lokasi.
“Komdan FK itu yang kase-kase maso alat di lokasi Tomula. Depe pemilik alat itu memang bukan dia, tapi dia yang kendalikan alat yang maso di Tomula itu,” ungkap sumber tersebut.
Pernyataan ini tentu menjadi serius karena menyentuh dugaan keterlibatan aparat penegak hukum dalam aktivitas pertambangan tanpa izin.
Namun, Akulturasipost tidak serta-merta menempatkan tudingan tersebut sebagai fakta. Keterangan sumber masih membutuhkan pembuktian melalui dokumen, pemeriksaan saksi, penelusuran kepemilikan alat berat, aliran uang, serta pendalaman aparat penegak hukum.
Siapa Pemilik Alat Berat?
Sumber yang sama kemudian mengungkap nama seseorang yang disebut sebagai pemilik alat berat yang digunakan di lokasi PETI Tomula.
Menurutnya, alat tersebut bukan milik FK, melainkan milik seseorang berinisial IT, yang disebut sedang berada di Kota Gorontalo.
“Yang punya alat itu te IT, tidak ada di Pohuwato dia, ada di kota,” lanjutnya.
Informasi tersebut menjadi penting untuk mengurai rantai tanggung jawab dalam insiden yang terjadi pada 2 September 2026.
FK Mengakui Jadi Mediator Peminjaman Alat
Ketika dikonfirmasi oleh tim Akulturasipost, FK tidak membantah bahwa dirinya memiliki keterkaitan dengan proses peminjaman alat berat jenis Hitachi tersebut.
Namun, FK menjelaskan bahwa perannya adalah sebagai mediator antara pihak yang membutuhkan alat dengan pemilik alat.
Menurut penjelasannya, pemilik alat berinisial IT merupakan orang yang berasal dari kampung yang sama dengannya. Proses awal peminjaman alat disebut memang melalui dirinya, sebelum kemudian komunikasi langsung berlanjut antara pihak peminjam dan pemilik alat.
“Jadi Pak IT ini kebetulan bersebelahan kampung dengan saya, jadi awal peminjaman alat ini sama saya, tapi untuk pembicaraan langsung itu sudah sama Pak IT,” jelas FK.
FK juga menyebut bahwa persoalan pembayaran kemudian berhubungan langsung dengan pemilik alat.
Ia mengatakan uang yang sebelumnya telah diberikan kemudian dikembalikan kepada pihak yang meminjam, namun pada 1 Juli uang tersebut kembali ditransfer oleh IT kepada pihak bernama Ranti.
“Sampai itu uang kan sudah dikembalikan, tapi karena tidak tahu ibu ini ngotot atau bagaimana, tanggal 1 Juli uangnya Ranti ini ditransfer kembali sama IT,” ungkapnya.
Keterangan tersebut justru memunculkan pertanyaan baru dalam penelusuran kasus ini: seperti apa sebenarnya hubungan antara pemilik alat, pihak peminjam, mediator, dan aktivitas PETI Tomula?
Dari Mana FK Mengetahui Insiden?
Hal lain yang juga menarik perhatian adalah pengakuan FK bahwa dirinya mengetahui insiden tergelincirnya alat berat di Tomula setelah menerima telepon langsung dari Ranti.
“Jadi saya tahu ini insiden tergelincirnya alat ini karena Ranti telepon saya jam 10,” kata FK.
Pengakuan ini menjadi salah satu titik penting yang perlu didalami.
Jika FK hanya berperan sebagai mediator peminjaman alat, mengapa Ranti,pihak pelaku usaha di lokasi langsung menghubunginya ketika terjadi insiden? Apakah karena hubungan komunikasi sebelumnya? Apakah karena posisinya sebagai perantara peminjaman alat? Atau terdapat hubungan lain yang lebih jauh dalam aktivitas di lokasi?
Jawaban atas pertanyaan tersebut sepenuhnya membutuhkan penyelidikan dan pemeriksaan resmi.
PETI Tomula dan Misteri Rantai Komando
Insiden ini pada akhirnya tidak semata-mata berbicara tentang alat berat yang tergelincir
Publik akan terus menunggu kejelasan dari insiden yang nyaris memakan korban jiwa di lokasi Tomula ini.






