Akulturasipost,POHUWATO — Tiga hari, satu tempat, dan satu tekad: melahirkan kader yang tidak hanya berani bergerak, tetapi juga mampu berpikir. Gemblengan LABRAK XIX sukses digelar pada 25–27 September 2026 di Embung Desa Iloheluma, Kecamatan Patilanggio, Kabupaten Pohuwato, mengusung tema “Menata Struktur, Menguatkan Kultur, Memperluas Spektrum Perjuangan LABRAK.”
Ketua Panitia Mukhtar Sahari menegaskan bahwa kader LABRAK tidak boleh menjadi massa yang mudah digerakkan tanpa memahami alasan perjuangannya. “Keberanian tanpa pengetahuan bisa menjadi kecerobohan. Karena itu kader harus mampu membedakan fakta dan opini, membaca persoalan, menyusun argumentasi, lalu bergerak dengan perhitungan,” tegasnya.
Menurut Mukhtar, kecerdasan kader bukan diukur dari seberapa banyak ia berbicara, melainkan dari kemampuannya mempertanyakan sesuatu secara kritis. “Kader harus berani bertanya ketika semua orang diam, berani berbeda ketika memiliki alasan yang benar, dan berani bertanggung jawab atas setiap langkah perjuangannya,” ujarnya.
Presiden LSM LABRAK Riefqy Athaullah, SH, menegaskan bahwa kaderisasi bukan sekadar agenda rutin organisasi. “LABRAK tidak boleh hanya hidup dalam nama dan struktur. LABRAK harus hidup dalam cara berpikir, sikap, integritas dan keberanian kader ketika berhadapan dengan persoalan rakyat,” katanya.
Selama tiga hari, peserta ditempa melalui berbagai materi, mulai dari sejarah dan ideologi LABRAK, karakter dan integritas, berpikir kritis, investigasi dasar, literasi hukum, advokasi masyarakat, kepemimpinan, organisasi dan kerja tim, etika perjuangan, keselamatan kader, hingga komunikasi publik, orasi dan aksi.
Riefqy menegaskan, LABRAK membutuhkan kader yang tidak mudah percaya, tidak mudah terprovokasi dan tidak mudah menyerah. “Kita tidak sedang mencetak kader untuk sekadar ramai di jalan. Kita sedang menempa manusia yang mampu membaca keadaan, mencari fakta, memahami hukum, membangun advokasi dan kemudian bergerak untuk kepentingan rakyat,” tegasnya.
Gemblengan LABRAK XIX ditutup pada Minggu, 27 September 2026, melalui evaluasi, & rekomendasi, serta penyematan tanda kader. Dari Embung Iloheluma, pesan itu ditegaskan kembali: perjuangan tidak cukup dengan keberanian—ia membutuhkan pengetahuan, integritas dan keberanian untuk tetap berdiri ketika kepentingan rakyat sedang dipertaruhkan.(Tim Redaksi)






