Akulturasipost,Pohuwato—Awal Februari, sungai di Pohon Cinta kembali membawa air cokelat pekat Kamis, (5/02/2026). Lumpur mengalir seperti ejekan terbuka terhadap penertiban yang kemarin dipuji. Aktivitas tambang ilegal di Bulangita kembali berjalan tanpa rasa takut, seolah ingin mengumumkan kepada publik: hukum bisa datang dan pergi, tapi pelanggaran tetap tinggal.
Laut yang kemarin dijadikan simbol keberhasilan kini berubah menjadi bukti kegagalan.
Warga merasa telah ditipu oleh harapan yang terlalu cepat dirayakan. Apresiasi yang dulu diberikan kepada Kapolres Pohuwato kini terasa seperti ironi pahit. Penertiban yang dielu-elukan ternyata rapuh—keras di depan kamera, lemah setelah sorotan hilang. Bagi masyarakat, ini bukan lagi sekadar kekecewaan. Ini penghinaan terhadap akal sehat.
“Kalau tambang ilegal bisa kembali secepat ini, berarti dari awal mereka tidak pernah benar-benar berhenti,” ujar seorang warga. Kalimat itu beredar dari mulut ke mulut, menjadi kemarahan kolektif yang sulit dibendung.
Masyarakat kini melihat pola yang berulang: operasi datang, pujian naik, lalu pelanggaran kembali hidup seperti tidak pernah tersentuh hukum. Warga mulai bertanya dengan nada yang semakin berani—apakah penegakan hukum hanya sandiwara periodik untuk meredakan kritik sesaat?
Air cokelat yang kembali mengalir bukan sekadar limbah tambang. Ia menjadi metafora telanjang tentang konsistensi yang gagal, pengawasan yang bocor, dan komitmen yang dipertanyakan. Setiap gelombang keruh di Pohon Cinta seperti menampar rasa percaya yang kemarin sempat tumbuh.
Bagi pedagang kecil, ini bukan drama politik. Ini soal perut. Soal wisata yang kembali kehilangan daya tarik. Soal pengunjung yang enggan datang. Soal dapur yang terancam sunyi. Dan di tengah semua itu, warga melihat aparat yang seharusnya menjaga aturan justru tampak seperti hanya menggugurkan kewajiban, bukan mempertahankan hukum.
Hari ini, laut Pohon Cinta tidak hanya cokelat. Ia menjadi monumen kekecewaan publik—tegak berdiri sebagai bukti bahwa tanpa keberanian menjaga konsistensi, penegakan hukum hanya akan menjadi pertunjukan yang berulang… dan selalu berakhir sama. Tim Redaksi






