akulturasipost.com, Pohuwato – Selama lebih dari dua minggu terakhir, aliran sungai di dekat kantor KPU Pohuwato berubah menjadi arus lumpur coklat pekat. Dokumentasi terbaru Selasa, (10/02/2026) menunjukkan sedimentasi tebal terus mengalir tanpa henti, hingga gorong-gorong tak lagi mampu menahan beban material dan badan jalan di titik sungai terpaksa dibongkar.
Peristiwa ini terjadi di pusat kota — bukan di wilayah terpencil — menjadikannya tamparan visual bagi wajah ibu kota kabupaten. Warga membandingkan kondisi ini dengan situasi pasca-penertiban sebelumnya, ketika air sempat kembali jernih. Kontras tersebut kini menjadi bahan pembicaraan publik: kejernihan hanya bertahan sesaat, sementara lumpur kembali mendominasi.
Nama Kapolda Gorontalo kembali disorot karena sebelumnya menyampaikan komitmen keras untuk memberangus aktivitas PETI yang merusak lingkungan. Kedekatan lokasi dugaan aktivitas di kawasan Bulangita — sekitar dua kilometer dari Mapolres Pohuwato — membuat masyarakat mempertanyakan efektivitas pengawasan.
Bagi warga, sungai yang kembali keruh adalah pesan yang lebih keras daripada pernyataan resmi. Ia menjadi ukuran langsung apakah penertiban benar-benar berlanjut atau hanya berhenti pada momentum sesaat?
Publik masih terus bertanya tanya!!! (REDAKSI)






