Akulturasipost.com, Pohuwato – Masyarakat Kesabaran sepertinya sudah berada di ujung tanduk. Empat kasus krusial yang tak kunjung tuntas kini berubah menjadi bom waktu yang menggerus kepercayaan terhadap Satreskrim Polres Pohuwato.(02/04/2026)
Tokoh masyarakat Yusuf Mbuinga tak lagi berbicara halus Kamis (2 April 2026). Ia menyoroti langsung wajah penegakan hukum yang dinilai semakin suram. “Jangan hanya tajam ke bawah, tapi tumpul ke atas!”—pesan keras yang mencerminkan kegelisahan masyarakat yang sudah lama dipendam.
Kasus enam alat berat menjadi bukti nyata: penindakan ada, tapi nyali menjerat aktor utama seolah hilang. Publik melihat ini tidak hanya lambat—ini terkesan seperti “berhenti di tengah jalan”. Siapa yang dilindungi? Siapa yang dihindari? Pertanyaan ini menggantung tanpa jawaban.
Lebih parah lagi, kasus mobil tangki BBM berubah menjadi simbol kaburnya transparansi. Informasi minim, perkembangan tidak jelas. Masyarakat dibiarkan menebak-nebak, seolah-olah hukum berjalan di ruang gelap tanpa arah. Ini bukan lagi soal prosedur—ini soal kepercayaan yang sedang runtuh.
Di sisi lain, kematian di tambang ilegal Desa Teratai justru diselimuti kabut misteri. Hasil otopsi tak diumumkan. Keterlambatan ini bukan hanya janggal—ini mencurigakan. Publik mulai bertanya lantang: ada apa yang ditutup-tutupi?
Belum cukup, dugaan salah menangkap terhadap warga Marisa (Ti Opa alias Ti Pa Ade) menjadi wawasan keras bagi institusi. Jika benar, ini bukan kesalahan kecil—ini bentuk nyata ketidakadilan yang bisa menghancurkan hidup seseorang. Siapa yang bertanggung jawab?
Nada frustrasi Yusuf meledak: “Sudah bulan April! Mau tunggu apa lagi?” Kalimat ini seperti alarm keras yang mengguncang legitimasi aparat di mata masyarakat.
Kini permasalahannya terang: masyarakat tidak lagi membutuhkan janji atau jargon “presisi”. Yang dibutuhkan adalah keberanian membuka fakta, menindak tanpa memandang bulu, dan berhenti bermain di balik layar. Jika tidak, satu hal yang pasti—kepercayaan publik akan runtuh, dan ketika itu terjadi, hukum tak lagi punya wibawa, hanya tersisa bayangan kosong.(Tim Redaksi)






