Sebuah Tulisan dari jiwa yang porak-poranda oleh Oligarki
Penulis : Riefqy Athaullah
Pohuwato—pagi itu datang tanpa harapan. Kabut tipis masih menggantung di atas aliran sungai, tempat warga biasa menambatkan harapan hidupnya. Namun hari ini, yang tersisa bukan lagi semangat, melainkan sisa-sisa luka yang belum sempat sembuh.
Pekan lalu, tenda-tenda mereka dirubuhkan. Bukan sekadar tempat berteduh, tapi ruang kecil tempat mimpi-mimpi sederhana disimpan. Kini, bahkan itu pun telah tiada. Dan hari ini, luka itu kembali dibuka.
Di tepian sungai, beberapa warga masih bertahan. Dengan alat seadanya, mereka mencoba mengais rezeki dari alam yang selama ini mereka kenal begitu dekat. Tapi langkah mereka kembali terhenti. Kehadiran pihak perusahaan bersama aparat menjadi penanda bahwa ruang hidup itu semakin menyempit—bahkan nyaris hilang.
Tak ada perlawanan yang keras. Hanya suara lirih yang pecah di antara ketegangan.
“Lahan kami belum dibayar…”
Kalimat itu menggantung di udara, seperti doa yang tak kunjung menemukan jawaban. Ia bukan sekadar protes—melainkan pengakuan atas ketidakberdayaan.
Satu per satu warga mulai membongkar sendiri talang-talang mereka. Kayu-kayu diangkat perlahan, seolah setiap sentuhan adalah perpisahan. Air yang dulu mengalir membawa harapan, kini hanya menjadi saksi bisu atas kepergian itu.
Tak ada pilihan lain. Mereka mundur—bukan karena menyerah, tapi karena tak lagi punya ruang untuk bertahan.
Di balik semua itu, ada pertanyaan yang terus mengendap, tak pernah benar-benar terjawab: tentang tanah yang mereka yakini belum diselesaikan haknya, tentang hidup yang harus terus berjalan di tengah ketidakpastian, tentang anak-anak yang tetap butuh makan dan sekolah.
Nanasi hari ini bukan hanya tentang konflik. Ia adalah cermin—tentang bagaimana pembangunan bisa terasa begitu jauh dari rasa keadilan.
Di tempat ini, kita belajar sesuatu yang getir: bahwa kadang, menjadi rakyat kecil berarti harus siap kehilangan, bahkan atas tanah yang dulu mereka pijak dengan keyakinan penuh.
Dan ketika suara-suara itu mulai redup, ketika tangis hanya terdengar pelan di antara gemuruh kepentingan, satu hal yang patut kita tanyakan—
Masih adakah ruang bagi keadilan untuk benar-benar berpihak?.






