Yusuf Mbuinga Bongkar “Aroma Busuk” Penegakan Hukum di Pohuwato

Thursday, 2 April 2026 - 03:16

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Akulturasipost.com, Pohuwato – Masyarakat Kesabaran sepertinya sudah berada di ujung tanduk. Empat kasus krusial yang tak kunjung tuntas kini berubah menjadi bom waktu yang menggerus kepercayaan terhadap Satreskrim Polres Pohuwato.(02/04/2026) 

Tokoh masyarakat Yusuf Mbuinga tak lagi berbicara halus Kamis (2 April 2026). Ia menyoroti langsung wajah penegakan hukum yang dinilai semakin suram. “Jangan hanya tajam ke bawah, tapi tumpul ke atas!”—pesan keras yang mencerminkan kegelisahan masyarakat yang sudah lama dipendam.
Kasus enam alat berat menjadi bukti nyata: penindakan ada, tapi nyali menjerat aktor utama seolah hilang. Publik melihat ini tidak hanya lambat—ini terkesan seperti “berhenti di tengah jalan”. Siapa yang dilindungi? Siapa yang dihindari? Pertanyaan ini menggantung tanpa jawaban.

Lebih parah lagi, kasus mobil tangki BBM berubah menjadi simbol kaburnya transparansi. Informasi minim, perkembangan tidak jelas. Masyarakat dibiarkan menebak-nebak, seolah-olah hukum berjalan di ruang gelap tanpa arah. Ini bukan lagi soal prosedur—ini soal kepercayaan yang sedang runtuh.
Di sisi lain, kematian di tambang ilegal Desa Teratai justru diselimuti kabut misteri. Hasil otopsi tak diumumkan. Keterlambatan ini bukan hanya janggal—ini mencurigakan. Publik mulai bertanya lantang: ada apa yang ditutup-tutupi?

Belum cukup, dugaan salah menangkap terhadap warga Marisa (Ti Opa alias Ti Pa Ade) menjadi wawasan keras bagi institusi. Jika benar, ini bukan kesalahan kecil—ini bentuk nyata ketidakadilan yang bisa menghancurkan hidup seseorang. Siapa yang bertanggung jawab?
Nada frustrasi Yusuf meledak: “Sudah bulan April! Mau tunggu apa lagi?” Kalimat ini seperti alarm keras yang mengguncang legitimasi aparat di mata masyarakat.

Kini permasalahannya terang: masyarakat tidak lagi membutuhkan janji atau jargon “presisi”. Yang dibutuhkan adalah keberanian membuka fakta, menindak tanpa memandang bulu, dan berhenti bermain di balik layar. Jika tidak, satu hal yang pasti—kepercayaan publik akan runtuh, dan ketika itu terjadi, hukum tak lagi punya wibawa, hanya tersisa bayangan kosong.(Tim Redaksi) 

Berita Terkait

Ambon Kota Musik: Harmoni Timur Indonesia yang Mendunia
Pernyataan Viral Perusahaan Tambang Picu Sorotan Baru, LABRAK Siapkan Laporan ke ESDM hingga Komnas HAM
Menguak Oknum Polisi dan Keterlibatan Pihak lain dibalik Aktivitas Ilegal di CA Tanjung panjang Pohuwato
Arab Saudi Tutup Umrah untuk Jamaah Asing Mulai 18 April 2026, Ini Alasannya
Mulai April 2026, ASN WFH Setiap Jumat—Ini Alasan Pemerintah
Rapat Komisi III Memanas, Hinca Pandjaitan Desak Copot Jaksa Karo di Kasus Amsal Sitepu
Operasi SAR Tuntas, 21 Korban Kapal Nazila 05 Ditemukan Selamat di Perairan Taliabu
Gempa Dahsyat M 7,6 Guncang Manado, Picu Kepanikan dan Telan Korban Jiwa
Berita ini 40 kali dibaca

Berita Terkait

Tuesday, 26 May 2026 - 05:24

Ambon Kota Musik: Harmoni Timur Indonesia yang Mendunia

Wednesday, 20 May 2026 - 01:01

Pernyataan Viral Perusahaan Tambang Picu Sorotan Baru, LABRAK Siapkan Laporan ke ESDM hingga Komnas HAM

Monday, 4 May 2026 - 10:24

Menguak Oknum Polisi dan Keterlibatan Pihak lain dibalik Aktivitas Ilegal di CA Tanjung panjang Pohuwato

Saturday, 4 April 2026 - 07:23

Arab Saudi Tutup Umrah untuk Jamaah Asing Mulai 18 April 2026, Ini Alasannya

Friday, 3 April 2026 - 14:07

Mulai April 2026, ASN WFH Setiap Jumat—Ini Alasan Pemerintah

Berita Terbaru

Podcast Teras Akulturasipost bersama Satuan Lalu Lintas Polres Pohuwato yang dihadiri oleh Kasat lantas, Kanit Kamsel dan Unit Gakkum. Dok Akulturasi/Arsady

Advetorial

Podcast Teras Akulturasipost bareng Satlantas Polres Pohuwato

Wednesday, 17 Jun 2026 - 04:09