Akulturasipost,Pohuwato—Pernyataan Rektor Universitas Pohuwato (UNIPO) menuai polemik setelah diduga mengeluarkan kalimat tidak pantas saat merespons aspirasi mahasiswa dalam forum diskusi kampus.
Insiden tersebut terjadi ketika sejumlah mahasiswa, khususnya dari Fakultas Hukum, mempertanyakan transparansi serta kelanjutan pembangunan masjid di lingkungan kampus. Alih-alih mendapatkan penjelasan teknis, mahasiswa justru menerima respons bernada keras yang dinilai menyerang ranah personal.
Dalam potongan percakapan yang beredar luas, Rektor terdengar mengatakan, “Kau ini tidak diajari oleh orang tuamu.” Pernyataan ini diperkuat oleh kesaksian mahasiswa yang hadir dalam forum tersebut.
“Saat kami menyampaikan pertanyaan, respons yang kami terima justru menyentuh hal pribadi. Itu sangat kami sesalkan karena tidak mencerminkan ruang diskusi akademik yang sehat,” ujar salah satu mahasiswa Fakultas Hukum yang enggan disebutkan namanya.
Tak berhenti di situ, Rektor juga diduga menggeneralisasi mahasiswa Fakultas Hukum dengan menyebut sikap kritis sebagai karakter umum mereka.
“Memang semua mahasiswa hukum ini begini,” ucapnya dalam rekaman yang kini beredar dan memicu reaksi luas.
Sejumlah kalangan menilai pernyataan tersebut sebagai bentuk pembungkaman terhadap daya kritis mahasiswa. Perwakilan mahasiswa pun menyampaikan keberatan atas sikap pimpinan kampus tersebut.
“Kami tidak mempersoalkan kritik terhadap sikap mahasiswa, tapi ketika sudah membawa-bawa latar belakang keluarga dan melakukan generalisasi, itu jelas melampaui batas etika,” tegas seorang perwakilan mahasiswa dalam pernyataan terpisah.
Reaksi juga datang dari alumni yang menilai pernyataan tersebut berpotensi merusak citra akademik.
“Pimpinan kampus seharusnya menjadi teladan dalam berkomunikasi. Pernyataan seperti itu tidak mencerminkan nilai-nilai akademis dan justru memperkeruh suasana,” ungkap seorang alumni UNIPO.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Universitas Pohuwato belum memberikan klarifikasi resmi terkait konteks utuh pernyataan tersebut maupun langkah mediasi yang akan ditempuh. Sementara itu, gelombang protes terus bergulir di media sosial, dengan tuntutan agar Rektor menyampaikan permohonan maaf secara terbuka atas pernyataan yang dinilai diskriminatif dan tidak edukatif.(Tim Redaksi)






