Akulturasipost, Pohuwato— Rencana pembangunan bendungan tailing raksasa setinggi sekitar 150 meter di kawasan tambang PETS mulai memicu ketakutan besar di tengah masyarakat Pohuwato. Di balik janji investasi dan pembangunan industri, warga justru melihat ancaman lain yang dianggap jauh lebih mengerikan: kemungkinan bencana besar jika bendungan limbah tambang itu suatu hari gagal menahan tekanan air dan material tailing.
Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Indonesia pernah berkali-kali dihantui tragedi bendungan dan tanggul jebol yang memakan korban jiwa. Publik masih mengingat tragedi Situ Gintung tahun 2009 di Tangerang Selatan. Tanggul yang jebol pada dini hari menerjang permukiman warga saat banyak orang masih tertidur. Puluhan nyawa melayang dan ratusan rumah hancur diterjang air bah.
Peristiwa serupa juga terjadi di Bendungan Waeapo, Pulau Buru. Luapan air akibat kerusakan bendungan dan cuaca ekstrem merendam rumah warga serta memutus akses jalan. Tragedi-tragedi itu kini kembali menghantui pikiran masyarakat Pohuwato yang mempertanyakan: bagaimana jika bendungan tailing raksasa di hulu suatu hari mengalami kebocoran atau keruntuhan?
Berbeda dengan bendungan air biasa, bendungan tailing menyimpan limbah sisa pertambangan dalam volume sangat besar selama bertahun-tahun. Jika terjadi longsor, kesalahan konstruksi, hujan ekstrem, atau kegagalan pengelolaan, yang meluncur ke bawah bukan hanya air, tetapi lumpur limbah tambang yang dapat menyapu sungai, lahan warga, hingga permukiman.
“Kalau bendungan sebesar itu jebol, siapa yang bisa jamin kampung-kampung di bawah aman?” ujar seorang warga penambang dengan nada cemas.
Keresahan warga semakin besar karena hingga kini masyarakat mengaku belum pernah melihat penjelasan terbuka terkait:
radius bahaya,jalur evakuasi,simulasi kebocoran,dampak pencemaran,
maupun ancaman terhadap sungai dan permukiman.
Padahal Pohuwato dikenal memiliki curah hujan tinggi serta kawasan perbukitan yang rawan longsor dan banjir.
Kondisi geografis itu membuat banyak warga menilai proyek bendungan tailing raksasa tidak bisa hanya dibahas dari sisi investasi, tetapi juga keselamatan manusia yang tinggal di bawah ancaman tersebut.
“Jangan tunggu bencana dulu baru semua sibuk turun ke lapangan. Korban paling besar selalu rakyat kecil,” kata warga lainnya.
Kini penolakan terhadap proyek bendungan tailing PETS mulai berkembang menjadi ketakutan kolektif masyarakat. Bukan hanya soal hilangnya mata pencaharian penambang lokal, tetapi juga kekhawatiran bahwa Pohuwato sedang dipaksa hidup di bawah bayang-bayang sebuah “bom waktu” raksasa di hulunya sendiri.(Tim Redaksi)






