Akulturasipost ,Gorontalo— Sejumlah penambang tradisional asal Kabupaten Pohuwato mendatangi Rumah Dinas Gubernur Gorontalo dan beraudiensi langsung dengan Gubernur Gorontalo, Gusnar ismail,pada Minggu (01/08/2026).
Tonton juga disaluran TV Akulturasi Channel
Pertemuan tersebut merupakan upaya mencari solusi atas permasalahan yang mereka hadapi terkait aktivitas penambangan tradisional di kawasan Sungai Kaya, Nanasi dan sekitarnya.
Dalam pertemuan tersebut, para penambang mengaku sudah tidak diizinkan lagi oleh pihak perusahaan untuk meletakkan talang di aliran Sungai kaya nanasi.
Padahal, aktivitas tersebut dilakukan secara turun-temurun selama puluhan tahun dan menjadi sumber penghidupan masyarakat setempat.
Para penambang menjelaskan bahwa metode pertambangan yang mereka gunakan tidak menggunakan alat berat, melainkan hanya memasang talang di aliran sungai. Mereka menilai larangan tersebut berdampak langsung terhadap mata pencaharian mereka yang selama ini bergantung pada aktivitas pertambangan tradisional ini.
“Kami cuma pasang talang pak, tidak pake alkon apalagi excavator, dan selama puluhan tahun pekerjaan yang menghidupi anak cucu hanya ini, hanya dari talang-talang yang kami pasang di sungai ini,” Keluh Ismail yang merupakan salah satu penambang.
Selain larangan beraktivitas, para penambang juga mengaku sejumlah talang milik mereka dirusak oleh pihak perusahaan. Tidak hanya itu, talang-talang mereka disita oleh pihak perusahaan dan kemudian dititipkan di polres pohuwato, sehingga mereka semakin kesulitan untuk kembali bekerja.
Dalam dialog bersama gubernur, seorang perwakilan penambang lainnya, Darwis Latif menegaskan bahwa masyarakat tidak menolak investasi. Namun mereka berharap keberadaan investasi dapat berjalan berdampingan dengan kepentingan masyarakat sekitar.
“Kami bukan anti investasi, tapi seharusnya investasi harus berpihak pada masyarakat, memberikan dampak positif, bukan malah menyengsarakan masyarakat,” ujar Darwis.
Menangapi aspirasi tersebut, Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail merenungkan mengenai pemanfaatan aliran sungai yang berada di dalam kawasan konsesi perusahaan. Menurutnya, sungai merupakan bagian dari bentang alam yang tetap mengalir secara alami.
“Jadi yang bisa saya tangkap, yang diberikan oleh alam ini ya. Bahasa kasarnya begini ,ini kan mereka sudah pagari ini merupakan wilayah konsesi, tapi alam ada sungainya, emas melintasi ini(sungai-red) Mungkin alam bilang sudah untuk rakyat ini kamu lepas saja. Itu kira-kira yang ada dalam pikiran saya,” kata Gusnar Ismail.
Dalam penalaran Gubernur Gorontalo bahwa sungai membawa material Emas yang menghidupi para warga selama puluhan tahun ini memang dianugerahkan untuk rakyat jadi alangkah baiknya jika pihak perusahaan mau legowo berdampingan dengan masyarakat yang mengais rejeki di sepanjang sungai kecil ini.
Pertemuan ini diharapkan menjadi langkah awal untuk mendapatkan solusi yang dapat mengakomodir kepentingan investasi sekaligus melindungi hak masyarakat yang selama ini menggantungkan kehidupan dari aktivitas penambangan tradisional di Sungai Kaya, Nanasi dan sekitarnya. (Tim Redaksi)






