akulturasipost.com, Pohuwato – Lebih dari satu bulan jalan di blok plan dekat KPU Pohuwato terputus total. Sebulan lebih. Infrastruktur publik tidak hanya rusak — ia mati. Gorong-gorong dibongkar karena sedimentasi berat yang diduga berasal dari aktivitas PETI di Bulangita. Lumpur menutup aliran udara. Jalan berubah menjadi simbol kegagalan yang berdiri telanjang di depan mata masyarakat.
Dan sementara jalan itu mati, tambang disebut hidup tanpa rasa bersalah.
Investigasi lapangan menemukan aktivitas berlangsung siang dan malam. Mesin bekerja tanpa jeda. Sungai dalam sepekan terakhir mengalirkan sedimentasi berat. Air yang dulu jernih kini membawa warna keruh seperti luka yang mengalir dari hulu.
Luka itu tidak berhenti di sungai.
Ia sampai ke laut Pohon Cinta.
Air pesisir kembali keruh. Ekosistem laut terancam. Nelayan melihat perubahan yang tidak bisa mereka lakukan. Alam sedang berteriak — dan teriakan itu terdengar jelas bagi warga.
Yang membuat kemarahan meledak bukan hanya kerusakan.
Tetapi rasa bahwa kerusakan ini terjadi di depan mata semua orang.
Tidak tersembunyi.
Tidak samar.
Terang. Kasat mata. Terus berlangsung dan APH entah kemana.(Tim Redaksi)






