EPISODE LANJUTAN “GEGER PETI BULANGITA”: REKAMAN SUARA MISTERIUS MUNCUL KE PERMUKAAN!

Friday, 31 October 2025 - 06:37

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pohuwato —(akulturasipost.com)Drama PETI Bulangita semakin panas. Setelah muncul dugaan transaksi uang Rp10 juta disertai surat pernyataan kepada keluarga korban, kini muncul rekaman suara yang diduga melibatkan oknum wartawan dengan kalimat “Sudah selesai, sudah selesai…”.(31/10)

 

 

Rekaman ini memicu pertanyaan besar:

Kok bisa profesi pers berada di lokasi transaksi sensitif?

Siapa yang menggagas skenario “penyelesaian” ini?

Apa motif sebenarnya?. Menanggapi fakta ini Presiden LSM LABRAK, Riefqy Athaullah, S.H, kembali angkat bicara. Ia menegaskan bahwa HUKUM tidak boleh dinegosiasi di luar prosedur.

“Jika benar ada oknum media terlibat, itu harus diselidiki. Pers tidak boleh menjadi alat penyelesai masalah yang menyangkut nyawa,” tegasnya.

Publik mulai menyorot adanya potensi konflik kepentingan, upaya meredam proses hukum, skema penyelesaian non-formal yang tak diketahui aparat.

Rumor tentang aktor intelektual di balik manuver “selesai di meja keluarga” semakin kuat.

 

Ada tanda tanya baru, Benarkah rekaman tersebut autentik?

Apakah ada pihak yang mengatur narasi publik?

Mengapa surat pernyataan sudah dikonsep sebelum disodorkan?

LSM LABRAK menyebut, bila benar, rekaman ini adalah alarm keras atas praktik yang berpotensi:

mempengaruhi proses penyidikan,

mencoreng profesi wartawan,

mengerdilkan nilai nyawa manusia.

 

Episode selanjutnya bakal mengungkap:

siapa saja yang hadir saat uang diserahkan,

isi narasi dalam rekaman,

dugaan motif dari pihak “pengantar”.

Geger PETI Bulangita kini bukan hanya soal tambang ilegal.

Tetapi soal harga nyawa, integritas profesi, dan keberanian aparat menegakkan hukum.

 

TIM REDAKSI

Berita Terkait

Dugaan TPPU belum terang, namun aktivitas PETI Hj. S masih terus beroprasi, penambang tradisional kabilasa mengaku dilarang beraktivitas
Diduga Beroperasi, Delapan Ekskavator Milik Haji S Digunakan dalam Aktivitas PETI di Botudulanga
Baznas dan Pemkab Pohuwato percepat penanganan bencana dan bantuan kemanusiaan
Hasil RDPU Belum Tuntas, Perusahaan malah makin menggila ; Talang Penambang Lokal diangkut ke Polres hingga HILANGNYA Data Izin di OSS Kian Jadi Sorotan
TMMD Ke-129 Pererat Kemanunggalan TNI-Rakyat Lewat Nobar Final Piala Dunia 2026
Dua Saksi Dipanggil Polisi, Penyelidikan Dugaan Pengancaman Terhadap Wartawan Berlanjut
YR TIM Pohuwato Konsisten Gelar Jumat Berkah, Tebar Kepedulian Sosial dan Perkuat Semangat Berbagi
TMMD Ke-129 Resmi Bergerak, Kodim 1313/Pohuwato Kebut Pembangunan Jalan, RTLH hingga Sarana Air Bersih di Makarti Jaya

Berita Terkait

Monday, 27 July 2026 - 03:14

Dugaan TPPU belum terang, namun aktivitas PETI Hj. S masih terus beroprasi, penambang tradisional kabilasa mengaku dilarang beraktivitas

Sunday, 26 July 2026 - 08:59

Diduga Beroperasi, Delapan Ekskavator Milik Haji S Digunakan dalam Aktivitas PETI di Botudulanga

Friday, 24 July 2026 - 11:26

Baznas dan Pemkab Pohuwato percepat penanganan bencana dan bantuan kemanusiaan

Wednesday, 22 July 2026 - 14:04

Hasil RDPU Belum Tuntas, Perusahaan malah makin menggila ; Talang Penambang Lokal diangkut ke Polres hingga HILANGNYA Data Izin di OSS Kian Jadi Sorotan

Monday, 20 July 2026 - 08:52

TMMD Ke-129 Pererat Kemanunggalan TNI-Rakyat Lewat Nobar Final Piala Dunia 2026

Berita Terbaru