Ketika Pengabdian Menjadi Perbudakan: Luka di Balik Hari Kesehatan Nasional

Wednesday, 12 November 2025 - 04:16

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Mohamad Yogi Kono, S.Kep., Ns

Setiap tahun, tanggal 12 November, bangsa ini tampak sibuk bersolek. Spanduk “Hari Kesehatan Nasional” terpajang di setiap jalan, pejabat berfoto dengan latar “Indonesia Sehat”, dan pidato tentang pengabdian tenaga kesehatan menggema di aula pemerintahan.
Namun di balik gemerlap seremoni itu, ada kenyataan yang nyaris tak pernah disorot kamera: tenaga kesehatan hidup dalam keterlupaan, bekerja di bawah tekanan, dibayar di bawah layak, dan perlahan mati dalam pengabdian yang tak dihargai.

Ironi di Balik Kata “Pengabdian”

Menjadi tenaga kesehatan di negeri ini bukan sekadar soal panggilan jiwa — tetapi perjuangan melawan sistem yang sering kali kejam.
Mereka menempuh pendidikan bertahun-tahun dengan biaya tinggi, praktik di lapangan hingga larut malam, melayani masyarakat tanpa kenal lelah. Namun upah yang diterima kerap tidak manusiawi.
Banyak di antara mereka yang hanya menerima dua hingga tiga ratus ribu rupiah per bulan, jumlah yang bahkan tak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Pemerintah menyebutnya “pengabdian.”
Tapi apa artinya pengabdian jika tidak diiringi penghargaan?
Pengabdian tanpa keadilan hanyalah bentuk perbudakan modern yang dilegalkan negara.

Padahal, seperti pesan Florence Nightingale, pelopor keperawatan dunia:

“Tidak ada yang lebih melemahkan masyarakat daripada mengabaikan mereka yang merawat yang sakit.”

Kesehatan Tak Akan Maju di Atas Luka Mereka. Kesehatan bukan hanya soal gedung megah dan alat canggih — ia berdiri di atas semangat manusia yang mengabdikan hidupnya untuk menyelamatkan nyawa orang lain.
Namun bagaimana mereka bisa menjaga kesehatan bangsa jika hidupnya sendiri terus diabaikan?

Seperti diingatkan oleh Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO:

“Tidak ada kesehatan tanpa tenaga kesehatan.”

Kutipan ini bukan sekadar slogan. ini peringatan keras bagi negara agar tak membiarkan pondasi kesehatan bangsa retak karena kelalaian sendiri.

Tenaga kesehatan adalah poros kehidupan bangsa. Mereka adalah wajah kemanusiaan yang sesungguhnya, tapi ironisnya, justru menjadi pihak yang paling sering dilupakan. Mereka diharapkan hadir saat masyarakat sakit, namun tidak ada yang hadir saat mereka sendiri terpuruk.

Saatnya Bicara Jujur

Hari Kesehatan seharusnya bukan pesta tahunan yang penuh spanduk dan tepuk tangan.
Ini seharusnya hari refleksi dan koreksi nasional.
Hari untuk menatap kenyataan bahwa mereka yang menjaga napas kita sedang kehabisan napas oleh sistem yang tak adil.

Negara tak bisa terus bersembunyi di balik alasan “anggaran terbatas” selagi proyek citra, gedung megah, dan seremoni terus berjalan.
Kesejahteraan tenaga kesehatan bukanlah hadiah, tetapi hak konstitusional.

Sebagaimana diingatkan Dr. Albert Schweitzer, dokter kemanusiaan peraih Nobel Perdamaian:

“Contoh bukanlah hal utama dalam memengaruhi orang lain. Itu adalah satu-satunya hal.”

Sudah saatnya negara memberi contoh nyata bukan hanya kata-kata manis di atas panggung.
Karena bila terus dibiarkan seperti ini, tenaga kesehatan akan tumbang satu per satu bukan oleh penyakit, tapi oleh ketidakadilan yang menular tanpa henti.

Dan ketika itu terjadi, jangan salahkan siapa pun jika suatu hari nanti, tak ada lagi yang tersisa untuk merawat kita.

Berita Terkait

SUMPAH PEMUDA dalam seremoni,jeritan rakyat diluar pagar Konsesi
‎Sumpah pemuda di ceremony,Sampah di Beranda,LSM LABRAK :”miris! Tumpukan sampah bahkan berserakan di beranda kantor Bupati!”
Mayjen Anggit Exton Yustiawan Mulai Kepemimpinan di Kodam XIII/Merdeka
Operasi Patuh Otanaha 2026 Dimulai, Satlantas Polres Pohuwato Tindak 4 Pengendara
Tanpa Latihan Gabungan, Ribuan Pelajar Kei Kecil Hadirkan Penampilan Bersejarah di Meti Kei 2026
IMM POHUWATO DESAK PRABOWO BERKANTOR DI IKN: KARHUTLA Makin Parah, IKN Telan Triliunan Rupiah
Kabut Asap Pohuwato Kian Pekat, Pengendara Mulai Keluhkan Mata Perih dan Sesak Napas
KETIKA SUBSIDI DISALAHGUNAKAN: MENIMBANG HUKUM, KEADILAN, DAN NURANI

Berita Terkait

Wednesday, 28 October 2026 - 03:21

SUMPAH PEMUDA dalam seremoni,jeritan rakyat diluar pagar Konsesi

Wednesday, 28 October 2026 - 01:21

‎Sumpah pemuda di ceremony,Sampah di Beranda,LSM LABRAK :”miris! Tumpukan sampah bahkan berserakan di beranda kantor Bupati!”

Tuesday, 27 October 2026 - 15:00

Mayjen Anggit Exton Yustiawan Mulai Kepemimpinan di Kodam XIII/Merdeka

Monday, 26 October 2026 - 10:17

Operasi Patuh Otanaha 2026 Dimulai, Satlantas Polres Pohuwato Tindak 4 Pengendara

Saturday, 24 October 2026 - 15:21

Tanpa Latihan Gabungan, Ribuan Pelajar Kei Kecil Hadirkan Penampilan Bersejarah di Meti Kei 2026

Berita Terbaru