DEWA DISEBUT PEMILIK ALAT, DAENG BABA DIKLARIFIKASI: BOTUDULANGA MENJADI TUMPUAN RAKYAT YANG KEHILANGAN RUANG PENGHIDUPAN

Saturday, 15 August 2026 - 06:14

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

POHUWATO, 15 Agustus 2026 — Pemberitaan mengenai aktivitas pertambangan di Sungai Botudulanga, Desa Hulawa, Kecamatan Buntulia, yang sebelumnya menyebut Daeng Baba sebagai pemilik alat berat, perlu diluruskan. Informasi yang diterima menyebutkan bahwa Daeng Baba bukan pemilik alat tersebut. Alat berat yang dikaitkan dengan aktivitas di lokasi disebut milik Dewa, yang merupakan masyarakat lokal Pohuwato. Informasi mengenai delapan unit ekskavator yang disebut beroperasi di lokasi juga dinilai tidak benar.

Klarifikasi tersebut penting agar tidak terjadi tuduhan terhadap pihak yang keliru. Namun bagi Serikat Petani dan Nelayan (SPAN), persoalan Botudulanga jauh lebih besar daripada sekadar soal kepemilikan alat.

Ketua SPAN Usman Nggilu menyoroti nasib masyarakat lokal yang semakin kehilangan ruang penghidupan setelah sejumlah wilayah konsesi perusahaan disebut semakin gencar disterilkan. Sebagian masyarakat kemudian mencari penghidupan di Botudulanga, termasuk Kabilasa, istilah lokal bagi penambang tradisional.

«“Kita harus melihat manusianya. Di sana ada penambang, Kabilasa dan keluarga yang hidup dari aktivitas tersebut. Ketika mereka kehilangan ruang penghidupan, negara harus hadir memberikan solusi dan kepastian hukum,” ujar Usman.»

Menurutnya, aktivitas di kawasan tersebut juga menciptakan perputaran ekonomi bagi masyarakat sekitar, mulai dari pedagang, pekerja jasa hingga ojek tambang. Kondisi itu menjadi semakin penting karena sebagian petani menghadapi dampak kemarau panjang, sementara nelayan mengalami keterbatasan melaut akibat angin kencang dan kondisi laut yang lebih berombak.

«“Rakyat tidak bisa hidup dari menunggu. Anak harus sekolah, keluarga harus makan. Kalau pemerintah meminta rakyat taat hukum, pemerintah juga wajib membuka jalan menuju legalitas,” tegasnya.»

SPAN tidak menolak investasi, tetapi meminta agar kehadiran korporasi tidak membuat masyarakat lokal kehilangan akses terhadap sumber daya alam di daerahnya sendiri.

«“Jangan sampai korporasi semakin luas ruangnya, sementara rakyat lokal semakin tersingkir. Rakyat tidak meminta belas kasihan, mereka meminta kesempatan dan kepastian,” kata Usman.»

Ia mendorong pemerintah mempercepat penataan dan legalisasi pertambangan rakyat. Jika ada persyaratan yang harus dipenuhi, masyarakat perlu didampingi agar dapat masuk ke dalam sistem hukum.

Bagi SPAN, polemik Botudulanga pada akhirnya bukan hanya soal Daeng Baba, Dewa atau alat berat, tetapi tentang keadilan bagi masyarakat lokal yang kehilangan ruang penghidupan.

Pohuwato boleh kaya emas, tetapi rakyatnya tidak boleh menjadi penonton di atas kekayaan alam tanahnya sendiri.

Berita Terkait

SUMPAH PEMUDA dalam seremoni,jeritan rakyat diluar pagar Konsesi
Kebaya Kartini dan Ragam Profesi Warnai Sumpah Pemuda di SDN 05 Marisa, Kepala Sekolah Tanamkan Karakter Sejak Dini
Dandim 1313/Pohuwato Hadiri Upacara Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 Tahun 2026 yang Dirangkaikan dengan Apel Korpri
‎Sumpah pemuda di ceremony,Sampah di Beranda,LSM LABRAK :”miris! Tumpukan sampah bahkan berserakan di beranda kantor Bupati!”
Mayjen Anggit Exton Yustiawan Mulai Kepemimpinan di Kodam XIII/Merdeka
Wali Kota Tual Nyanyikan Lagu Rohani di Sidang MPL 2026: Ain Ni Ain, Bukti Nyata Toleransi Kita
Operasi Patuh Otanaha 2026 Dimulai, Satlantas Polres Pohuwato Tindak 4 Pengendara
Prabowo Akui Banyak Kekurangan MBG, 13 Orang Jadi Tersangka dan 353 Dipecat

Berita Terkait

Wednesday, 28 October 2026 - 03:21

SUMPAH PEMUDA dalam seremoni,jeritan rakyat diluar pagar Konsesi

Wednesday, 28 October 2026 - 03:02

Kebaya Kartini dan Ragam Profesi Warnai Sumpah Pemuda di SDN 05 Marisa, Kepala Sekolah Tanamkan Karakter Sejak Dini

Wednesday, 28 October 2026 - 02:40

Dandim 1313/Pohuwato Hadiri Upacara Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 Tahun 2026 yang Dirangkaikan dengan Apel Korpri

Wednesday, 28 October 2026 - 01:21

‎Sumpah pemuda di ceremony,Sampah di Beranda,LSM LABRAK :”miris! Tumpukan sampah bahkan berserakan di beranda kantor Bupati!”

Tuesday, 27 October 2026 - 15:00

Mayjen Anggit Exton Yustiawan Mulai Kepemimpinan di Kodam XIII/Merdeka

Berita Terbaru