Oleh : Sonni Samoe
PENDIRI LSM LABRAK
Di balik tenangnya hutan Indonesia, ada cerita yang jarang terdengar—cerita tentang bagaimana pohon-pohon yang seharusnya menjadi penyangga kehidupan, justru berubah menjadi komoditas untuk memenuhi kebutuhan energi negara lain.
Biomassa, yang sering dipromosikan menjadi energi hijau, perlahan berubah menjadi ancaman baru. Di atas kertas terlihat ramah lingkungan, tetapi di lapangan, pembukaan lahan besar-besaran untuk mengejar produksi pelet kayu justru merusak ekosistem yang menjadi sumber kehidupan jutaan masyarakat lokal. Hutan yang selama puluhan tahun menjadi benteng banjir, penyimpan udara, penjaga tanah, dan rumah bagi keanekaragaman hayati, perlahan menghilangnya deretan tanaman cepat panen.
Yang mendapat energinya adalah Jepang—negara maju yang sedang menekan emisi karbon dengan mencari sumber energi “lebih hijau”. Pelet kayu dari Indonesia menjadi bahan bakar alternatif pembangkit listrik mereka. Secepatnya listrik itu menyalakan rumah, kantor, dan industri di sana… sementara batang-batang pohon dari hutan kita meninggalkan luka ekologis di sini.
Dan ketika hutan hilang, bencana datang tanpa mengetuk.
— Banjir bandang yang tak bisa dibendung.
— Tanah longsor yang menelan desa-desa yang dulu aman.
— Kekeringan yang memutus aliran air bersih.
— Konflik sosial saat ruang hidup masyarakat adat dirampas secara perlahan.
Indonesia tidak mendapatkan manfaat sebesar yang dijanjikan. Yang kita dapat justru adalah risiko jangka panjang—kerusakan hutan, hilangnya keanekaragaman hayati, dan bencana ekologis yang menimpa generasi ke generasi.
Pada akhirnya, narasi ini menjadi ironi global:
Energi “bersih” mereka dibayar dengan kerusakan alam kita.
Kenyamanan mereka berbanding lurus dengan penderitaan ekologis rakyat kita.
Dan sebelum semuanya terlambat, kita perlu bertanya:
Apakah layak menukar paru-paru negeri dengan label “energi hijau” yang hanya hijau di atas kertas?
Ada satu ironi yang menyesakkan dada ketika kita melihat apa yang terjadi di Pohuwato, terutama di kawasan Popayato dan sekitarnya. Kita sering mendengar kata investasi, energi hijau, dan pembangunan berkelanjutan. Kata-kata indah itu begitu mudah diucapkan di ruang rapat dan seremoni ekspor, namun di kampung-kampung yang berhadapan langsung dengan hutan, kenyataannya jauh dari indah.
Hutan yang selama ini menjadi penyangga kehidupan masyarakat Pohuwato perlahan dirampas oleh ambisi industri biomassa—industri yang mengklaim dirinya sebagai solusi energi bersih, padahal jejaknya di lapangan justru meninggalkan luka yang dalam. Pohon-pohon yang tumbuh puluhan tahun ditebang dalam hitungan hari. Bukit yang dulu hijau berubah menjadi lahan terbuka. Dan ketika hujan datang, air tak lagi punya tempat untuk meresap.
Siapa yang menanggung akibatnya?
Bukan Jepang yang menikmati listrik dari pelet kayu kita.
Bukan perusahaan-perusahaan yang menghitung laba di kantor ber-AC.
Tetapi warga Pohuwato—yang rumahnya terendam, yang putus asa, yang sawahnya rusak, yang hidupnya berubah hanya karena hutan di hulu tak lagi menjadi pelindung.
Popayato sudah berkali-kali merasakan pahitnya banjir bandang. Setiap musim hujan, kecemasan yang sama datang kembali. Sepertinya alam sedang memberi peringatan berulang kali, tetapi kita sibuk memutar cerita tentang “energi terbarukan”. Bagaimana sesuatu bisa disebut terbarukan kalau yang hilang adalah hutan alam yang tak mungkin kembali seperti semula?
Dalam setiap tetes air banjir, ada kisah kehilangan:
Ibu yang menjemur kasur berlapis lumpur.
Ayah yang kesulitan menggarap kebun yang tergerus udara.
Anak-anak yang tak bisa sekolah karena jalan terputus.
Lansia yang takut hujan karena setiap awan gelap bisa berarti bencana.
Di tengah semua itu, truk-truk pengangkut kayu biomassa tetap berlalu-lalang. Kapal ekspor tetap berdiri gagah di pelabuhan. Mesin-mesin tetap menyala menebang pohon-pohon yang selama ini menjaga kita dari marabahaya.
Pohon tak pernah meminta balasan atas oksigen yang ia berikan. Hutan tak menagih ke kedamaian atas udara yang ia simpan untuk kita. Alam Pohuwato sudah terlalu banyak memberi—tetapi kini ia terpaksa menanggung beban untuk memenuhi kebutuhan energi negeri lain. Kita membayar dengan bencana agar orang lain bisa membayar tagihan listriknya dengan hati tenang.
Inilah saatnya kita dengan jujur melihat kenyataan:
Bahwa investasi yang merusak hutan bukanlah kemajuan—itu adalah pengkhianatan terhadap masa depan anak-anak kita.
Bahwa biomassa yang menghancurkan tanah kelahiran bukanlah energi hijau—itu hanyalah wajah baru dari eksploitasi lama.
Bahwa derita banjir dan longsor di Popayato bukan sekadar peristiwa alam—itu adalah konsekuensi dari keputusan manusia.
Pohuwato tidak membutuhkan pahlawan dari luar. Pohuwato hanya membutuhkan keadilan: keadilan untuk alamnya, untuk masyarakatnya, dan untuk hak hidup generasi yang akan datang.
Jika hutan terus ditebang, siapa yang akan melindungi kita ketika hujan berikutnya turun?
Jika air bah terus datang, sampai kapan kita menutup mata dan mengira sebagai “musibah biasa”?
Jika Popayato terus menjadi korban, apa arti pembangunan bagi mereka yang tinggal di dalam bayang-bayang bencana?
Hutan bukan sekadar kumpulan pohon—ia adalah penyangga kehidupan.
Dan ketika penyangga itu roboh, kita semua merasakan runtuhnya.
Semoga suara kecil dari tanah Pohuwato ini sampai pada siapa pun yang masih percaya bahwa pembangunan tidak harus berarti bersepeda, dan bahwa kemajuan tanpa kematian hanyalah jalan pintas menuju kehancuran.
Karena energi mereka tidak dapat terus menerus menjadi bencana kita.
Ada satu ironi yang menyesakkan dada ketika kita melihat apa yang terjadi di Pohuwato, terutama di kawasan Popayato dan sekitarnya. Kita sering mendengar kata investasi, energi hijau, dan pembangunan berkelanjutan. Kata-kata indah itu begitu mudah diucapkan di ruang rapat dan seremoni ekspor, namun di kampung-kampung yang berhadapan langsung dengan hutan, kenyataannya jauh dari indah.
Hutan yang selama ini menjadi penyangga hidup masyarakat Pohuwato perlahan dirampas oleh ambisi industri biomassa—industri yang mengklaim diri sebagai solusi energi bersih, padahal jejaknya di lapangan justru meninggalkan luka yang dalam. Pohon-pohon yang tumbuh puluhan tahun ditebang dalam hitungan hari. Bukit yang dulu hijau berubah menjadi lahan terbuka. Dan ketika hujan datang, air tak lagi punya tempat untuk meresap.
Siapa yang menanggung akibatnya?
Bukan Jepang yang menikmati listrik dari pelet kayu kita.
Bukan perusahaan-perusahaan yang menghitung laba di kantor ber-AC.
Tetapi warga Pohuwato—yang rumahnya terendam, yang jalannya putus, yang sawahnya rusak, yang hidupnya berubah hanya karena hutan di hulu tak lagi menjadi pelindung.
Popayato sudah berkali-kali merasakan pahitnya banjir bandang. Setiap musim hujan, kecemasan yang sama datang kembali. Seolah alam sedang memberi peringatan berulang-ulang, tetapi kita sibuk memutar cerita tentang “energi terbarukan”. Bagaimana sesuatu bisa disebut terbarukan kalau yang hilang adalah hutan alam yang tak mungkin kembali seperti semula?
Dalam setiap tetes air banjir, ada kisah kehilangan:
Ibu yang menjemur kasur berlapis lumpur.
Ayah yang kesulitan menggarap kebun yang tergerus air.
Anak-anak yang tak bisa sekolah karena jalan terputus.
Lansia yang takut hujan karena setiap awan gelap bisa berarti bencana.
Dan di tengah semua itu, truk-truk pengangkut kayu biomassa tetap berlalu-lalang. Kapal ekspor tetap berdiri gagah di pelabuhan. Mesin-mesin tetap menyala menebang pohon-pohon yang selama ini menjaga kita dari marabahaya.
Pohon tak pernah meminta balasan atas oksigen yang ia berikan. Hutan tak menagih imbalan atas air yang ia simpan untuk kita. Alam Pohuwato sudah terlalu banyak memberi—tetapi kini ia dipaksa menanggung beban untuk memenuhi kebutuhan energi negeri lain. Kita membayar dengan bencana agar orang lain bisa membayar tagihan listriknya dengan hati tenang.
Inilah saatnya kita jujur melihat kenyataan:
Bahwa investasi yang merusak hutan bukanlah kemajuan—itu adalah pengkhianatan terhadap masa depan anak-anak kita.
Bahwa biomassa yang menghancurkan tanah kelahiran bukanlah energi hijau—itu hanyalah wajah baru dari eksploitasi lama.
Bahwa derita banjir dan longsor di Popayato bukan sekadar peristiwa alam—itu adalah konsekuensi dari keputusan manusia.
Pohuwato tidak butuh pahlawan dari luar. Pohuwato hanya butuh keadilan: keadilan untuk alamnya, untuk masyarakatnya, dan untuk hak hidup generasi yang akan datang.
Jika hutan terus ditebang, siapa yang akan melindungi kita ketika hujan berikutnya turun?
Jika air bah terus datang, sampai kapan kita menutup mata dan menganggapnya sebagai “musibah biasa”?
Jika Popayato terus menjadi korban, apa arti pembangunan bagi mereka yang tinggal di dalam bayang-bayang bencana?
Hutan bukan sekadar kumpulan pohon—ia adalah penyangga hidup.
Dan ketika penyangga itu roboh, kita semua merasakan runtuhnya.
Semoga suara kecil dari tanah Pohuwato ini sampai pada siapa pun yang masih percaya bahwa pembangunan tidak harus berarti penghancuran, dan bahwa kemajuan tanpa keberlanjutan hanyalah jalan pintas menuju kehancuran.
Karena energi mereka tak boleh terus menerus menjadi bencana kita.






