“PETI Akan Diberantas — Jadwal Tayang Ulang Dimulai”

Tuesday, 17 February 2026 - 05:12

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PENULIS : SRI SUSANTI YUNUS

KABID HUKUM&HAM

LSM LABRAK

Pohuwato kembali mendapat kabar baik.
Tambang ilegal akan diberantas.
Pernyataan itu datang dengan nada tegas, mikrofon yang serius, dan wajah-wajah aparat yang tampak yakin bahwa kali ini sejarah benar-benar akan berubah. Kata “memberantas” diucapkan seperti mantra. Kuat. Final. Tidak bisa ditawar.

Masyarakat sudah hafal bunyinya.
Ini bukan pertama kali janji itu turun dari podium. Sudah berkali-kali PETI diumumkan akan ditertibkan. Sudah berkali-kali alat berat difoto. Sudah berkali-kali konferensi pers diadakan. Dan seperti musim, aktivitas tambang selalu punya bakat aneh untuk kembali tumbuh.

PETI di Pohuwato tampaknya bukan sekadar kegiatan ilegal. Ia lebih mirip makhluk mitologis: setiap kali diumumkan mati, ia muncul lagi dengan suara mesin yang lebih keras.
Nelayan mendengar janji pemberantasan itu sambil melihat muara sungai yang makin dangkal. Mereka tidak ikut konferensi pers. Mereka ikut arus lumpur.
Bagi mereka, pemberantasan bukan kata kerja. Pemberantasan adalah pertanyaan sederhana:
besok sungai kami bisa dicemooh atau tidak?

Seorang nelayan berkata, “Kami sering mendengar mau diberantas. Tapi yang kami lihat, lumpur tetap datang.”
Itu kalimat yang tidak masuk rilis resmi, tapi lebih jujur ​​dari seribu spanduk.
Satirnya bukan pada aparat yang berbicara. Satirnya ada pada jarak antara kata dan kenyataan. Di podium, tambang ilegal tampak seperti masalah administrasi. Di lapangan, ia adalah mesin yang tetap menyala.

Mungkin PETI di Pohuwato sudah kebal terhadap konferensi pers. Mungkin ia hanya takut pada sesuatu yang belum pernah dicoba: konsisten.
Karena tambang ilegal tidak berhenti oleh pernyataan. Ia berhenti oleh tindakan yang lebih keras dari kamera.
Dan sampai hari itu datang, masyarakat akan terus hidup di antara dua dunia:
dunia pidato yang penuh kepastian
dan dunia lumpur yang tidak pernah membaca pidato.

Berita Terkait

Kemiskinan Bone Bolango Turun ke 12,87 Persen, Ismet Mile Perkuat Agenda Kesejahteraan
Kemiskinan Bone Bolango Turun ke 12,87 Persen pada 2026, BPS Catat 20,72 Ribu Warga Masih Miskin
Pengembalian ASURANSI jadi “BOM” waktu! BSG Didesak Membuka Seluruh Rincian Pembayaran
Jangan Biarkan Amanah Pendiri KUD DHARMA TANI Menjadi Sejarah yang Dikhianati Pengurus!!! Harson Ali Bersuara untuk Penambang RAKYAT Gunung Pani.
OPM Soroti pernyataan Rahmat di konflik Pani, Hasan Lasiki “KUD Jangan jadi Kaki tangan Kolonialisme!,”
BAZNAS Pohuwato Apresiasi JNE Tunaikan Zakat Maal, Perusahaan Pengelola SDA Diimbau Ikut Berkontribusi
SUMPAH PEMUDA dalam seremoni,jeritan rakyat diluar pagar Konsesi
Kebaya Kartini dan Ragam Profesi Warnai Sumpah Pemuda di SDN 05 Marisa, Kepala Sekolah Tanamkan Karakter Sejak Dini

Berita Terkait

Friday, 30 October 2026 - 01:34

Kemiskinan Bone Bolango Turun ke 12,87 Persen, Ismet Mile Perkuat Agenda Kesejahteraan

Friday, 30 October 2026 - 01:05

Kemiskinan Bone Bolango Turun ke 12,87 Persen pada 2026, BPS Catat 20,72 Ribu Warga Masih Miskin

Thursday, 29 October 2026 - 06:15

Pengembalian ASURANSI jadi “BOM” waktu! BSG Didesak Membuka Seluruh Rincian Pembayaran

Thursday, 29 October 2026 - 03:24

Jangan Biarkan Amanah Pendiri KUD DHARMA TANI Menjadi Sejarah yang Dikhianati Pengurus!!! Harson Ali Bersuara untuk Penambang RAKYAT Gunung Pani.

Thursday, 29 October 2026 - 01:06

OPM Soroti pernyataan Rahmat di konflik Pani, Hasan Lasiki “KUD Jangan jadi Kaki tangan Kolonialisme!,”

Berita Terbaru