Akulturasipost.com, Pohuwato – Penangkapan alat berat yang sebelumnya sempat dilakukan di wilayah pertambangan ilegal Desa Bulangita, Kabupaten Pohuwato, ternyata belum mampu menghentikan sepenuhnya aktivitas di lapangan. Warga menyebut, aktivitas yang diduga terkait dengan Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) masih terus berlangsung, seolah tak terdengar.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan besar di tengah masyarakat: mengapa penindakan yang sudah dilakukan belum memberi efek jera?
Beberapa warga mengaku sempat berharap situasi akan berubah setelah adanya langkah penertiban. Namun harapan itu perlahan memudar ketika aktivitas kembali terlihat di sejumlah titik. Mesin disebut kembali terdengar, lalu lalang kendaraan masih terjadi, dan kondisi lingkungan tetap mengalami tekanan.
“Sudah pernah ada penangkapan alat berat, tapi kenyataannya aktivitas seperti jalan lagi. Kami jadi bingung,” ujar seorang warga yang menanyakan identitasnya tidak dipublikasikan.
Kondisi ini menambah panjang daftar keresahan masyarakat. Kerusakan lingkungan di kawasan Bulangita semakin terasa: air sungai berubah keruh, akses jalan rusak, dan banjir berulang kali menghantam wilayah sekitar. Warga menilai, tanpa penanganan yang serius, dampaknya akan semakin luas.
Di ruang publik, berbagai spekulasi mulai bermunculan. Sebagian besar masyarakat bertanya-tanya apakah ada kekuatan tertentu yang membuat aktivitas tersebut sulit dihentikan. Namun hingga kini, belum ada bukti hukum yang dapat memastikan dugaan tersebut.
Sejumlah narasumber juga mengaku kerap melihat orang-orang keluar masuk kawasan tambang, termasuk pihak-pihak yang tidak mereka kenal. Situasi ini memicu kemunduran, meski tidak bisa langsung disimpulkan sebagai pelanggaran tanpa proses hukum yang jelas.
Masyarakat menilai, kondisi seperti ini berbahaya jika dibiarkan berlarut-larut. Ketika penindakan terlihat tidak konsisten, kepercayaan masyarakat terhadap penegakan hukum bisa menurun, sementara pelaku di lapangan justru merasa ruang geraknya masih terbuka.
“Yang dibutuhkan bukan hanya operasi sesaat, tetapi langkah berkelanjutan dan transparan. Publik perlu melihat bahwa hukum bekerja sampai tuntas,” ujar seorang pengamat yang dimintai tanggapan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi yang menjelaskan mengapa aktivitas di lapangan disebut masih berlangsung meskipun sebelumnya telah dilakukan penindakan. Masyarakat kini menantikan jawaban yang lebih jelas — bukan sekadar penangkapan simbolis, tetapi penyelesaian yang benar-benar menghentikan kerusakan.
Di Bulangita, pertanyaan itu terus bergaung dari mulut ke mulut:
jika alat berat sudah ditangkap namun aktivitas tetap berjalan, siapa sebenarnya yang mampu membuat semuanya terus bergerak?






