Krisis Energi Global Mengguncang Bangladesh, PNS Diperintahkan Hemat Listrik hingga Batasi Penggunaan AC

Tuesday, 31 March 2026 - 15:01

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi antrian BBM di Bangladesh, ditingkatkan dengan Artifisial Intelejen. Dok istimewa

Ilustrasi antrian BBM di Bangladesh, ditingkatkan dengan Artifisial Intelejen. Dok istimewa

Akulturasipost, Pemerintah Bangladesh mengambil langkah tegas dalam menghadapi tekanan krisis energi yang kian memburuk. Dampak konflik di kawasan Timur Tengah yang memicu lonjakan harga energi global kini mulai dirasakan secara langsung oleh negara berpenduduk sekitar 170 juta jiwa tersebut.

Sebagai respons cepat, otoritas melalui Kementerian Administrasi Publik mengeluarkan instruksi resmi kepada seluruh Pegawai Negeri Sipil (PNS) untuk melakukan penghematan energi secara ketat di lingkungan perkantoran. Kebijakan ini mencakup pembatasan penggunaan listrik, mulai dari lampu, kipas angin, hingga pendingin ruangan (AC).

Dalam edaran yang dirilis pada Minggu malam, pemerintah menegaskan bahwa hanya peralatan listrik yang benar-benar diperlukan yang boleh digunakan selama jam kerja. Para pegawai juga diwajibkan memastikan seluruh perangkat listrik dimatikan sebelum meninggalkan kantor, sebagai bagian dari upaya menekan konsumsi energi nasional.

Tak hanya itu, pengaturan suhu pendingin ruangan juga menjadi perhatian khusus. Pemerintah menetapkan standar minimal suhu AC di angka 25 derajat Celsius atau lebih tinggi, guna mengurangi beban listrik yang selama ini menjadi salah satu penyumbang konsumsi terbesar di sektor perkantoran.

Langkah ini tidak berdiri sendiri. Pemerintah Bangladesh juga tengah berupaya mencari solusi jangka menengah dengan mengajukan pinjaman sekitar 2 miliar dolar AS kepada lembaga donor multilateral. Dana tersebut diharapkan dapat membantu menstabilkan pasokan energi serta menjaga keberlangsungan sektor-sektor vital di tengah tekanan global.

Di sektor lain, kebijakan penghematan juga diterapkan secara lebih luas. Pemerintah membatasi pembelian bahan bakar oleh masyarakat, menghentikan sebagian besar produksi di pabrik pupuk yang membutuhkan energi tinggi, serta mengerahkan aparat kepolisian untuk mengawasi distribusi bahan bakar di stasiun pengisian.

Kondisi ini mencerminkan betapa rentannya ketergantungan energi impor terhadap gejolak geopolitik global. Dengan sekitar 95 persen kebutuhan minyak dan gas masih bergantung pada impor, setiap gangguan di pasar internasional langsung berdampak pada stabilitas domestik.

Situasi yang dihadapi Bangladesh menjadi pengingat keras bagi banyak negara berkembang tentang pentingnya diversifikasi sumber energi dan efisiensi konsumsi. Di tengah ketidakpastian global, langkah penghematan kini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendesak untuk menjaga ketahanan energi nasional.

Berita Terkait

Menguak Oknum Polisi dan Keterlibatan Pihak lain dibalik Aktivitas Ilegal di CA Tanjung panjang Pohuwato
Arab Saudi Tutup Umrah untuk Jamaah Asing Mulai 18 April 2026, Ini Alasannya
Mulai April 2026, ASN WFH Setiap Jumat—Ini Alasan Pemerintah
Rapat Komisi III Memanas, Hinca Pandjaitan Desak Copot Jaksa Karo di Kasus Amsal Sitepu
Operasi SAR Tuntas, 21 Korban Kapal Nazila 05 Ditemukan Selamat di Perairan Taliabu
Gempa Dahsyat M 7,6 Guncang Manado, Picu Kepanikan dan Telan Korban Jiwa
Yusuf Mbuinga Bongkar “Aroma Busuk” Penegakan Hukum di Pohuwato
Sosialisasi Regulasi BCKSPSTK di Malra Dorong Sinergi Pemprov, Pemkab, dan DPRD untuk Peningkatan Mutu Pendidikan
Berita ini 44 kali dibaca

Berita Terkait

Monday, 4 May 2026 - 10:24

Menguak Oknum Polisi dan Keterlibatan Pihak lain dibalik Aktivitas Ilegal di CA Tanjung panjang Pohuwato

Saturday, 4 April 2026 - 07:23

Arab Saudi Tutup Umrah untuk Jamaah Asing Mulai 18 April 2026, Ini Alasannya

Friday, 3 April 2026 - 14:07

Mulai April 2026, ASN WFH Setiap Jumat—Ini Alasan Pemerintah

Friday, 3 April 2026 - 05:58

Rapat Komisi III Memanas, Hinca Pandjaitan Desak Copot Jaksa Karo di Kasus Amsal Sitepu

Thursday, 2 April 2026 - 14:28

Operasi SAR Tuntas, 21 Korban Kapal Nazila 05 Ditemukan Selamat di Perairan Taliabu

Berita Terbaru