141.288 Jam yang Lalu….

Saturday, 11 July 2026 - 01:15

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Elegi untuk kk RG.

OLEH : SONNI SAMOE

 

………Ada angka-angka yang baru menemukan maknanya setelah seseorang pergi.

Bukan ketika ia lahir.

Bukan ketika ia berdiri di atas panggung-panggung kehormatan.

Tetapi ketika kabar duka itu datang, lalu waktu mendadak berubah menjadi kenangan.

141.288 jam yang lalu.

Di Jakarta, takdir mempertemukan kami.

Kami berjabat tangan.

Kami bertukar gagasan.

Kami meramu pemikiran tentang daerah yang sama-sama kami cintai.

Kami berbicara tentang masa depan, tentang harapan, tentang bagaimana tanah ini seharusnya memberi kehidupan yang layak bagi rakyatnya.

Lalu kami mengabadikan sebuah foto.

Sesederhana itu.

Tidak ada firasat.

Tidak ada tanda.

Tidak ada yang mengetahui bahwa waktu sedang diam-diam menghitung mundur sebuah perpisahan.

Hari-hari berganti menjadi bulan.

Bulan berubah menjadi tahun.

Lalu seluruh hitungan jam itu berakhir dengan sebuah kabar yang membuat dada sesak.

Kakak Rachmat Gobel telah berpulang.

Sejak hari itu, foto tersebut tak lagi sekadar gambar.

Ia menjelma menjadi serpihan waktu yang tak mungkin terulang.

Sebuah pengingat bahwa setiap pertemuan mungkin saja adalah pertemuan terakhir, hanya saja Allah merahasiakannya agar manusia tetap saling mencintai tanpa dibayangi rasa takut akan perpisahan.

Sesungguhnya kami pernah memiliki harapan yang sama.

Melihat Gorontalo tumbuh dengan kehormatan.

Melihat Pohuwato berdiri dengan martabat.

Melihat rakyat kecil hidup tanpa rasa takut kehilangan tanah, kehilangan harapan, atau kehilangan masa depannya.

Allah hanya menulis jalan yang berbeda.

Beliau dilahirkan di tengah keluarga besar yang telah lama mengabdi kepada negeri. Jalan hidup membawanya menuju amanah-amanah besar, hingga namanya dikenal di tingkat nasional.

Sedangkan saya hanyalah rakyat biasa.

Pernah menjadi bagian dari birokrasi, lalu memilih meninggalkan kenyamanan itu ketika hati tak lagi sanggup menyaksikan mereka yang lemah kehilangan tempat mengadu.

Pilihan itu tidak membuat hidup menjadi lebih mudah.

Justru sejak saat itu, jalan yang dilalui lebih banyak dipenuhi kesunyian daripada tepuk tangan, lebih banyak luka daripada pujian, lebih banyak pengorbanan daripada kenyamanan.

Politik kemudian menempatkan kami pada sisi yang berbeda.

Setiap kali beliau datang ke Pohuwato, saya hanya mampu memandang dari kejauhan.

Bukan karena rasa hormat itu hilang.

Bukan pula karena penghargaan itu memudar.

Melainkan karena kehidupan sering kali membangun sekat-sekat yang tidak selalu mampu dilampaui oleh manusia.

Namun kini saya memahami sesuatu.

Kematian adalah pertemuan yang paling jujur.

Ia merobohkan seluruh tembok yang dibangun oleh jabatan.

Ia menghapus batas yang dibuat oleh politik.

Ia membungkam perdebatan yang dahulu terasa begitu penting.

Di hadapan liang lahat, semua manusia kembali menjadi seorang hamba.

Tak ada lagi yang dipanggil Yang Terhormat.

Tak ada lagi yang disambut dengan protokol.

Tak ada lagi iring-iringan kendaraan.

Tak ada lagi ajudan.

Tak ada lagi ruang kerja yang megah.

Yang tersisa hanyalah selembar kain kafan, doa-doa yang dipanjatkan dengan tulus, dan amal yang akan menjawab setiap pertanyaan di hadapan Allah.

Hidup ternyata lebih rapuh daripada embun yang berdiam di ujung daun.

Ia berkilau ketika fajar menyapanya.

Lalu lenyap bahkan sebelum mata benar-benar sempat menikmatinya.

Begitulah manusia.

Begitulah kekuasaan.

Hari ini dielu-elukan.

Esok tinggal nama.

Yang tidak pernah mati hanyalah jejak yang ditinggalkan di hati manusia.

Betapa banyak orang menghabiskan umur mengejar kursi kekuasaan, tetapi lupa bahwa kursi itu berhenti di depan liang lahat.

Betapa banyak yang sibuk mengumpulkan tepuk tangan, tetapi lupa bahwa suara manusia hanya mampu mengantar sampai tanah kuburan ditutup.

Yang melintasi batas antara dunia dan akhirat bukanlah pangkat.

Bukan pula kekayaan.

Bukan pula pengaruh.

Yang ikut hanyalah amal.

Yang terus hidup hanyalah kebaikan.

Pemimpin sejati tidak dikenang karena panjangnya iring-iringan kendaraan, banyaknya ajudan, atau megahnya ruangan tempat ia bekerja.

Ia dikenang karena ketika rakyat menangis, ia tidak memalingkan wajah.

Ketika keadilan diinjak, ia tidak memilih diam.

Ketika yang lemah kehilangan sandaran, ia hadir sebagai tempat mereka berharap.

Dan ketika kebenaran menuntut keberanian, ia tidak menghitung untung dan rugi.

Hari ini…

Semuanya telah menjadi kenangan.

Yang dahulu memberi gagasan, kini hanya meninggalkan jejak.

Yang dahulu berbicara tentang masa depan, kini telah lebih dahulu menuju keabadian.

Yang dahulu menanam harapan, kini tinggal dipanen melalui doa-doa yang tak pernah putus.

Selamat jalan, Kakak Rachmat Gobel.

Semoga Allah SWT mengampuni segala khilafmu, menerima seluruh amal baktimu, melapangkan kuburmu, meneranginya dengan cahaya rahmat-Nya, dan menempatkanmu di surga terbaik bersama orang-orang yang dicintai-Nya.

Dan kepada setiap pemegang amanah di negeri ini…

Ingatlah, umur tidak dihitung dengan jabatan, melainkan dengan kesempatan berbuat baik.

Jangan khianati amanah yang dititipkan rakyat.

Berdirilah bersama mereka yang lemah ketika yang kuat menekan.

Jagalah tanah, air, hutan, dan masa depan anak-anak negeri ini.

Jangan biarkan rakyat kehilangan ruang hidupnya oleh penjajahan yang datang membawa nama investasi dan berwajah korporasi.

Sebab ketika seluruh hitungan hari dan jam kita telah selesai, sejarah tidak akan bertanya berapa lama kita berkuasa.

Sejarah akan bertanya, di pihak siapa kita berdiri ketika rakyat membutuhkan keberanian.

Dan ketika nama kita kelak hanya tinggal ukiran di atas batu nisan, semoga yang datang bukan hanya pelayat yang mengantar jenazah, tetapi juga doa-doa tulus dari rakyat yang pernah merasakan bahwa hidup kita benar-benar menjadi cahaya bagi mereka.

Berita Terkait

Baznas dan Pemkab Pohuwato percepat penanganan bencana dan bantuan kemanusiaan
Hasil RDPU Belum Tuntas, Perusahaan malah makin menggila ; Talang Penambang Lokal diangkut ke Polres hingga HILANGNYA Data Izin di OSS Kian Jadi Sorotan
YR TIM Pohuwato Konsisten Gelar Jumat Berkah, Tebar Kepedulian Sosial dan Perkuat Semangat Berbagi
TMMD Ke-129 Resmi Bergerak, Kodim 1313/Pohuwato Kebut Pembangunan Jalan, RTLH hingga Sarana Air Bersih di Makarti Jaya
Jaga Masa Depan Anak Daerah! Pemuda Kecam Keras Perusakan Kantor Dinas Pendidikan Malra
Polres Pohuwato Amankan 2 Excavator Diduga Digunakan untuk PETI di Dengilo, Dua Operator Jalani Pemeriksaan
Respon Cepat Laporan Masyarakat, Polsek Popayato Musnahkan Bekas Arena Sabung Ayam di Tahele
Danrem 133/Nani Wartabone Terima Kunjungan Kapolda Gorontalo, Tegaskan Sinergitas TNI-Polri Harga Mati

Berita Terkait

Friday, 24 July 2026 - 11:26

Baznas dan Pemkab Pohuwato percepat penanganan bencana dan bantuan kemanusiaan

Wednesday, 22 July 2026 - 14:04

Hasil RDPU Belum Tuntas, Perusahaan malah makin menggila ; Talang Penambang Lokal diangkut ke Polres hingga HILANGNYA Data Izin di OSS Kian Jadi Sorotan

Friday, 17 July 2026 - 10:23

YR TIM Pohuwato Konsisten Gelar Jumat Berkah, Tebar Kepedulian Sosial dan Perkuat Semangat Berbagi

Friday, 17 July 2026 - 10:13

TMMD Ke-129 Resmi Bergerak, Kodim 1313/Pohuwato Kebut Pembangunan Jalan, RTLH hingga Sarana Air Bersih di Makarti Jaya

Friday, 17 July 2026 - 04:48

Jaga Masa Depan Anak Daerah! Pemuda Kecam Keras Perusakan Kantor Dinas Pendidikan Malra

Berita Terbaru