Akulturasipost, POHUWATO — Tragedi kembali mengguncang kawasan Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Kabupaten Pohuwato. Informasi sementara yang tersebar dari lokasi menyebut lima orang meninggal dunia dan satu orang berhasil selamat setelah longsor terjadi di area pertambangan. (Rabu 12/8/2026)
Tonton juga disaluran TV Akulturasi Channel detik” Terjadinya longsor
Yang lebih tersirat, sejumlah korban lainnya diduga masih tertimbun material longsor. Proses pencarian dan evakuasi masih berlangsung, sementara jumlah korban secara keseluruhan belum dapat dipastikan.
Seorang saksi mata di sekitar lokasi yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan menyebutkan, titik kejadian diduga berada di antara batas lokasi Firman Pakaya dan Adil Datukramat. Saksi juga menyebut lokasi tersebut berkaitan dengan aktivitas usaha pertambangan di wilayah Buntulia.
Namun informasi mengenai lokasi, jumlah korban, maupun pihak yang terkait dengan aktivitas pertambangan tersebut belum dapat dinyatakan sebagai fakta resmi dan masih menunggu verifikasi dari aparat penegak hukum.
Kabar tersebut sontak menambah daftar panjang tragedi kemanusiaan yang terjadi di tengah aktivitas PETI di Pohuwato. Aktivitas penambangan di kawasan dengan medan rawan longsor kembali membahayakan keselamatan para pekerja, sementara keluarga korban kini menunggu kepastian nasib orang-orang yang belum ditemukan.
Situasi di lapangan masih berkembang. Upaya pencarian terhadap korban yang diduga tertimbun menjadi prioritas, sekaligus memastikan jumlah korban yang sebenarnya dalam tragedi tersebut.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian mengenai jumlah korban, identitas korban, titik pasti kejadian, maupun kronologi lengkap peristiwa. Konfirmasi resmi kepolisian masih menunggu untuk memastikan seluruh informasi yang beredar di masyarakat.
Tragedi ini kembali menyisakan pertanyaan besar: sampai kapan aktivitas PETI di Pohuwato terus memakan korban jiwa? Bagi keluarga korban, emas tidak pernah sebanding dengan nyawa yang hilang.
Kini publik menunggu satu hal: kepastian. Siapa korban, berapa jumlahnya, apa penyebab longsor, dan siapa yang harus bertanggung jawab?. (Tim Redaksi)






